Seumur hidupku telah kuhabiskan untuk berdamai, berdamai kalau aku harus menunda kuliahku karena studi saudaraku yang lain lebih penting, berdamai dengan komentar-komentar negatif yang selalu diarahkan padaku, berdamai dengan kesepian dan kesendirian. Tapi untuk yang satu ini, ku takkan pernah sudi untuk berdamai atau menyerah dan menerima lebih tepatnya. Meski langkahku terseok, meski kemungkinannya sangat kecil, meski harus kulalui labirin yang sangat rumit, meski hatiku hancur lebur, ku kan terus berjuang untuk mencapai mimpi-mimpiku, mimpi akan cinta, cita,
dan posisiku di alam jagad raya ini.
Bandara Soekarno-Hatta, Jum'at 21 November 2008 (19.40)
Ternyata pergi ke luar negeri urusannya gak segampang itu, mulai dari ngurus dokumen-dokumen seperti paspor, visa, asuransi, tiket, dan setelah sampai di bandara masih ada lagi yang namanya check-in, bayarfiscal (habis aku perginya sebelum tanggal 1 Januari 2009, lagipula kalaupun setelah 1 Januari 2009, aku belum punya NPWP), dan lain-lain. Semuanya terasa asing, maklumlah karena belum pernah sebelumnya. Aku biasanya cuma naik angkot atau bis, tinggal naik gratis terus turunnya bayar, gampang, sederhana, dan sangat merakyat. Tapi siapa sangka, sekarang aku sudah berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, gate D4 tepatnya, dengan tujuan Sydney, Australia. Luar biasa bukan!!?? Aku beruntung punya bibi, dari pihak ibu yang tinggal di Australia. Dia menikah dengan orang Belanda dan mempunyai seorang anak. Sekarang mereka semua sudah menjadi warga negara Australia. Berhubung belum pernah ada keluarga dari Indonesia yang menengok mereka di negeri kangguru dan koala tersebut, akulah akhirnya yang mendapat kesempatan untuk mengunjungi mereka. Sebenarnya aku sedikit gak percaya kalau aku yang akhirnya mendapat kepercayaan untuk pergi kesana, pada awalnya kakakku yang diundang untuk datang, karena kakakku tentunya jauh lebih meyakinkan dibandingkan dengan aku yang terkadang masih dianggap seperti anak-anak di usia tuaku ini. Tetapi karena sesuatu hal, kakakku tidak mungkin pergi kesana, jadi kesempatan itu secara tiba-tiba berpindah padaku. Ada pelajaran yang bisa kuambil dari peristiwa ini yaitu jangan pernah berkecil hati walaupun terkadang orang di sekeliling kita menganggap diri kita gak penting, tapi Tuhan tidak mungkin tertukar dalam melimpahkan rizki-Nya he..he…. Karena aku belum memiliki penghasilan dan pekerjaan yang tetap, berbeda dengan para pengusaha tionghoa yang mondar-mandir ke luar negeri layaknya pergi ke kakus, pengalaman ini tentulah sangat hebat bagiku. Bagian paling hebatnya adalah semua biaya pengurusan dokumen dan tiketnya gratis, alias dibayarin.
Di sebelahku, duduk sepasang suami istri paruh baya, sepertinya kalau bukan orang Australia, kemungkinan mereka berkewarganegaraan New Zealand (he..he..sok tau banget ya..). Di sisi sebelah yang lain, berdiri pilar yang bagian ujung atas dan bawahnya bermotif corak mirip batik. Tetapi pilar tersebut gak berfungsi untuk menyangga konstruksi gedung di bandara ini, lebih tepatnya berfungsi sebagai hiasan. Sebenernya sekarang ini, kepalaku terasa pusing, mungkin karena aku memiliki masalah dengan dyspepsia fungsional alias gangguan pencernaan, makanya mudah sekali masuk angin. Tapi, berhubung sudah janji sama diri sendiri, kalau mau buat jurnal tentang pengalaman selama di Australia, mau gak mau terpaksa deh. Sudah terlalu sering diriku ini mencederai janji pada diri sendiri, jadi sekuat tenaga aku berusaha jangan sampai terulang lagi. Sebenarnya istri orang asing paruh baya di sebelahku tampak berniat untuk mengajakku berbicara, tapi karena melihat gelagatku yang gak jelas, bengong, celingukan kanan-kiri, nulis, terus bengong lagi lama banget. Ibu yang ramah dan baik hati itu mengurungkan niatnya.
Para petugas di bandara ini cukup baik lho sama pribumi. Tadi aku sempat bertingkah seperti orang linglung, tapi gak ada yang sinis tuh. Kontras sekali dengan para petugas di kantor keimigrasian Bandung pada saat aku mengajukan pembuatan paspor. Waktu itu, aku nawar kalau paspornya jangan yang 48 lembar tapi yang 24 lembar aja biar ongkosnya lebih murah, lagian aku pun belum tahu kapan bakal bisa pergi ke luar negeri lagi, jadi jangan-jangan paspor yang halamannya banyak itu malah tidak terpakai. Secara tiba-tiba, petugas disana langsung jengkel dan bilang "Mbak TKW ya?" (oke..oke… aku yang salah gak ngerti prosedur, aku memang orang udik yang baru pertama kali ke luar negeri, supaya lebih irit aku pun mengurus pembuatan paspor ini sendiri tanpa menggunakan jasa calo, yang sebagian besarnya terdiri dari pegawai resmi kantor keimigrasian itu sendiri. Tapi kalau saudara-saudara pegawai pemerintah yang terhormat ini memiliki budi pekerti yang sedikit lebih baik, mungkin bisa menggunakan kata-kata yang lebih sopan dan beradab, trus apa pula salahnya para TKW kita). Oh..iya, satu lagi, ketika aku membeli formulir di loket depan, aku dilayani seorang perempuan cantik tapi sambutannya dingin sekali, sedingin udara malam hari di kuburan (padahal aku belum pernah bermalam di kuburan lho….tapi kok bisa tahu ya kalau udaranya dingin banget).
Bicara soal TKW, tadi aku melihat pemandangan yang cukup miris. Ketika aku sedang berdiri di semacam flat escalator dan terkagum-kagum memandangi toko-toko mewah yang menawarkan souvenir, majalah, wine, benda-benda seni di dalam bandara, tiba-tiba ada segerombolan perempuan dengan seragam hitam-putih dengan karakteristik wajah yang sangat melayu sedang merebahkan diri di lantai. Air muka mereka semburat kekecewaan, kerinduan akan keluarga, kepiluan, kepasrahan, kengerian, dan harap-harap cemas menghadapi kemungkinan bahwa majikan mereka bisa saja berperangai amat kejam seperti ibu tiri (tapi mudah-mudahan tidak sekejam para politikus karbitan, birokrat dan konco-konco bromocorahnya yang belagak seperti pemilik sah negeri ini, sombong, angkuh, licik, dan sifat tak tahu malunya sudah tertanam secara mutlak, menginjak-injak ke bawah dan menjilat-jilat ke atas, culas, busuk dan tengik). Di tempat ini, orang-orang dari berbagai dunia lalu-lalang dengan penuh percaya diri, terlihat necis dan sangat beradab, sedangkan para TKW kita bergelimpangan di lantai menunggu penerbangan yang tertunda sampai entah kapan, sudah menjadi budaya negeri ini segalanya begitu tak pasti, para pahlawan devisa negeri kita jadi nampak sangat tidak penting (teman, kalau teman memasuki bandara Soekarno-Hatta, tepat di tempat kedatangan internasional, teman-teman akan membaca papan besar bertuliskan, "Selamat Datang Pahlawan Devisa", ironis bukan, pahlawan kok diperlakukan seperti sampah).
Sydney International Airport, Sabtu 22 November 2008
Ah…akhirnya, setelah penerbangan yang cukup panjang dan melelahkan karena susah sekali untuk bisa tertidur selama kurang lebih selama 7 jam, pesawat yang aku tumpangi mendarat juga. Tibalah aku di benua luas yang diketahui jarang turun hujan, dimana penduduknya yang berjumlah sangat sedikit apabila dibandingkan dengan populasi penduduk di Indonesia, tinggal di daerah-daerah yang dekat dengan pantai. Bagian tengah benua ini kosong, alias tidak berpenghuni karena terlalu gersang. Di bandara ini aku harus berganti pesawat dari penerbangan internasional menjadi penerbangan domestik dengan tujuan Brisbane. Disini, aku harus melewati beberapa pemeriksaan seperti pabean dan lain-lain. Tetapi sejauh ini gak ada hambatan apa pun yang berarti, para petugas di bandara ini pada umumnya sangat baik dan ramah. Kalau gak tahu jalan tinggal nanya aja, mereka dengan senang hati akan ngasih tahu. Setelah beberapa hari kemudian, aku baru sadar kalau sudah menjadi budaya di Down Under ini penduduknya selalu mengucapkan "Thank You" untuk hal sekecil apa pun. What a beautiful, eh? Jadi buat siapa pun yang mau menginjakkan kaki di OZ baik untuk melanjutkan studi, menjenguk koala dan kangguru, berlibur, keperluan bisnis, atau apa pun, jangan lupa untuk selalu bilang "Yes, Please!" atau "No, Thank You!' Kalau hanya bilang "yes" atau "no" aja kurang sopan.
Brisbane Airport, Sabtu 22 November 2008
Sebenarnya keluargaku di Australia tinggal di Gold Coast, tepatnya bagian selatan dari negara bagian Queensland, satu-satunya negara bagian yang gak ada daylight saving pada musim panasnya. Jadi untuk orang muslim Indonesia yang mungkin mau tinggal di Australia tetapi punya penyakit mag kronis sebaiknya memilih tinggal di negara bagian ini. Jadi gak perlu menahan lapar sampai lebih dari 18 jam di bulan puasa. Di negara-negara bagian yang memiliki periode daylight saving, biasanya sudah mulai terang-benderang sejak pukul 4 subuh dan tetap terang-benderang pada pukul 8 malam. Ketika aku memesan tiket di Bandung, petugas travel agent-nya bilang kalau gak ada pesawat yang langsung ke Gold Coast, dan kota besar terdekat dari Gold Coast adalah Brisbane. Setiba di Brisbane Airport, ternyata keluargaku sudah mempersiapkan upacara penyambutan, mereka membawa poster yang bertuliskan namaku dengan huruf yang cukup besar, lalu aku diberi kalung bunga, diberi minum segelas orange juice, lalu kemudian dibawa pake kursi roda. Aneh banget kan??!! Sangat berlebihan dan tidak masuk akal. He..he..yang tadi cuma bohong lagi, yang benernya gini, waktu aku keluar dari pesawat dan melewati lorong yang bisa dipindah-pindah untuk menghubungkan pintu keluar pesawat dan bandara. Aku melihat tiga orang yang kukenal sudah menunggu sambil tersenyum manis sekali (mungkin mereka sarapannya dengan gula). Ketika aku melangkah ke depan mereka, aku mendapat pelukan hangat, kami pun bercucuran air mata, terharu karena gembira (nah itu bohong lagiii…).
On the Way ke Rumah Bibi, Sabtu 22 November 2008
Percaya gak percaya aku sudah menginjakkan kaki di negeri orang. Aku dan keluargaku pun naik mobil menuju Gold Coast. Waktu yang harus ditempuh kurang lebih satu jam, mirip jarak antara Jakarta-Bogor. Hampir seluruh jalanan di Australia layaknya jalan tol di Indonesia, lebar, lengang, dan sepi. Tepi jalanan disana tidak dipadati rumah penduduk atau toko-toko, tetapi pepohonan, yang kemudian aku ketahui bernama "Gum Tree", kokoh dan terkesan gersang. Warna daunnya sedikit kecoklatan, pohon ini sanggup bertahan hidup di tempat yang sangat gersang sekalipun. Beberapa tiang listrik yang berdiri tegak pun terbuat dari batang gum tree dan diberi cat hijau. Diantara rimbun gum tree, terdapat pula pohon eucalyptus, atau pohon kayu putih, yang daunnya merupakan makanan bagi para koala.
O'Rally's National Park, Senin 24 November 2008
Setelah satu hari istirahat, gak pergi kemana-mana, diam di rumah aja tidur-tiduran persis orang males, hari senin kami pun mulai pelesir. Sebenarnya paman, bibi, dan sepupuku sudah mengajak jalan-jalan sehari sebelumnya, tapi karena aku kurang enak badan, mungkin angin-angin dari Indonesia masih bersarang di perutku, berputar-putar disana dan gak mau keluar, akibatnya kepalaku jadi sedikit pusing. Tapi hari senin sudah terasa jauh lebih baik dan kami semua pun akhirnya berangkat. Sepanjang perjalanan, pamanku bercerita kalau di taman nasional nanti akan ada banyak burung-burung terbang bebas dan gak malu-malu lagi untuk hinggap di bahu atau kepala kita. Terlebih lagi kalau kepala kita sudah ditaburi bubuk roti, burung-burung itu akan semakin menjadi-jadi menyerbu kepala kita (tapi gatau ya kalau serbuk roti ditambah gak keramas satu bulan, mungkin burung-burungnya langsung semaput dan kapok seumur-umur, rasain tuh kepala orang Indonesia, belum tahu mereka@!%$@*). Kita berempat sempat berhenti di toko yang jual baju hangat. Baju-baju hangat itu terbuat dari bulu "alpaca". Kalau ada yang belum tahu seperti apakah bentuknya alpaca. Sebenarnya pasti gak terlalu asing deh, bentuknya mirip unta tapi dalam versi mungil. Harga baju hangat yang dibuat dari bulu alpaca lebih mahal dibadingkan yang terbuat dari bulu biri-biri, selain itu hangat sekali. Kayaknya kurang cocok kalau dipake di negara tropis seperti Indonesia.
Setelah berkendaraan kurang lebih 45 menit, akhirnya kami pun tiba di taman nasional O' Rally's. Pada saat itu, hampir tiba waktunya makan siang, dan rencananya kami akan masak lamb barbeque siang itu. Kami pun turun dari mobil dengan perut keroncongan dan mulai mencari perfect spot untuk menggelar makan siang. Setelah kami menemukan tempat yang cukup tepat, kami mengeluarkan semua perbekalan.
Pada awalnya semua berjalan dengan lancar, pamanku memasak potongan-potongan daging kambing di atas kompor yang merupakan fasilitas umum di taman nasional tersebut. Kami pun makan dengan damai sambil menikmati pemandangan burung-burung cantik yang hinggap di ranting-ranting pohon tepat di atas tempat duduk kami. Lalu muncul insiden kecil, seekor burung kalkun mulai mengais-ngais makanan di kantong plastik sampah, dan setelah itu burung-burung lain mulai berdatangan ke atas meja kami dan mematuki roti yang kami bawa, malah aku sempat berebutan roti dengan burung-burung tersebut. Meja tempat dimana kami neggelar taplak pun mulai berantakan tak karuan. Burung-burung tersebut semakin agresif ketika kami berusaha mengusir mereka. Setelah diserang habis-habisan kami pun menyerah dan menyudahi makan siang kami. Selain puas mempersingkat waktu makan siang kami pada saat itu, burung-burung tersebut pun tidak lupa untuk memberikan kenang-kenangan kotoran diatas tas dan kerudungku (kalau burung-burung itu bisa berbicara bahasa manusia mungkin mereka akan berkata,"He..he..rasain, habis kepalamu bau sekali, sudah gak keramas berapa lama mbak?).
Movie World, Selasa 25 November 2008
Teman, kalau di Jakarta kita biasa mengenal tempat rekreasi seperti Sea World atau Dunia Fantasi, di Gold Coast pun kurang lebih sama, ada Sea World, Dreamworld, serta Movie World. Kalau boleh jujur, aku belum pernah mencoba menaiki satu wahana pun di Dufan he..he…tapi dengan berbangga hati ingin ku katakan bahwa aku sudah mencoba hampir seluruh rides (artinya wahana juga) di Movie World. Rides yang ada di Movie World pada dasarnya mirip dengan Dufan tapi bertemakan film-film Warner Bross, contohnya roller coaster diberi nama Superman escape, dan rides lainnya bertemakan Scooby Doo, Wild-Wild West, Bugs Bunny, Lethal Weapon, dan film 4D Shrek. Selain itu, masih ada lagi pertunjukan-pertunjukan seperti Bony and Clyde, Cat Woman, Marilyn Monroe, dan kuis yang dibawakan aktor Mike Myers wannabe (maksudnya Mike Myers jadi-jadian) di film Austin Power.
Dua rides yang paling menegangkan adalah Superman Escape dan Lethal Weapon. Dan, lagi-lagi terjadi sebuah insiden kecil ketika aku menaiki roller coaster atau yang disebut Superman Escape. Pada awalnya aku sudah sangat yakin bahwa aku akan baik-baik saja, menaiki wahana permainan yang memicu sedikit adrenalin seperti itu bukanlah hal yang cukup berarti bagi orang sudah kenyang dengan pahitnya kehidupan sepertiku (paria atau pare adalah salah satu makanan kesukaanku, rasanya pahit tapi enak menurutku). Ketika tiba giliranku untuk duduk di salah satu tempat di roller coaster, aku langsung melompat dengan penuh percaya diri, aku sudah sangat paham bahwa aku harus mengatur posisi kepalaku agar tetap menempel pada sandaran kepala di kursi. Aku telah menonton aturan-aturan keamanan untuk menaiki wahana tersebut di layar monitor sebanyak puluhan kali ketika mengantre lebih dari setengah jam. Roller coaster pun mulai melaju pelan tetapi pasti dan terus menanjak menuju puncak, dan aaaaaargh!!!!@#$%%^ roller coaster melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi menukik ke bawah dengan kemiringan 900, berputar-putar tidak kurang dari tiga kali. Aku sudah tidak dapat lagi mengontrol posisi kepala agar tetap menempel di sandaran kursi, dan ternyata barisan gigi seri bagian atasku menghantam palang besi yang berfungsi untuk menahan tubuhku agar tidak terlempar dari wahana tersebut, beberapa cipratan darah pun menghiasi kerudungku (setelah insiden kotoran burung kemarin, sekarang disusul dengan cipratan darah. Tuhan…tak bisakah sehari saja aku terlihat bersih dan sedikit beradab????).
Tweed Heads, Point Danger, Byron Bay, Minggu 30 November 2008
Sebagai seorang yang punya hobi naik gunung, tantangan untuk menaiki ratusan anak tangga ku anggap sebagai angin lalu saja. Jadwal kami hari itu adalah Byron Bay. Pada saat itu kami pergi pada pukul 10.00 pagi, menempuh perjalanan hampir satu jam, lalu window shoping di Surfer's Paradise. Surfer's Paradise adalah salah satu tourist destinations di Gold Coast, suasananya kurang lebih mirip dengan bali, dekat pantai dan banyak toko-toko yang menjual sourvenir di sekitar kawasan tersebut. Aku sempat melihat pemandangan cewek-cewek bule mengantre di toko ice cream dengan hanya berbalut bikini two pieces, luar biadab!!! eh..luar biasa!!! Pada saat kelulusan SMA, anak-anak yang baru lulus dari berbagai kota datang ke Surfer's Paradise untuk menggelar pesta habis-habisan selama satu minggu penuh, istilah bagi anak-anak baru lulus yang menggelar pesta tersebut adalah "schoolies" (eh..bener gak ya ejaannya???). Setelah itu kami menuju Tweed Heads yang berada di Coolangatta Town, Tweed Head adalah garis perbatasan antara negara bagian Queensland dengan New South Wales, aku bisa berdiri dengan satu kaki di Queensland dan sebelah lagi di New South Wales. Karena telah masuk waktunya makan siang kami pun mencari restoran cepat saji dan kembali mengisi amunisi di sana. Setelah itu kami menuju Point Danger, yang merupakan titik paling selatan Australia.
Kalau bulan Juni mungkin kita akan melihat ikan-ikan paus di perairan Australia yang bermigrasi dari lautan Pasifik karena suhu disana terlalu dingin, tetapi kalau bulan November, suhu di perariran Australia terlalu panas. Setelah puas memandangi laut dari atas tebing di Point Danger, kami pun menuju Byron Bay. Pemandangan di Byron Bay tidak kalah cantik, pantai dan laut yang super bersih dan langit yang cerah. Langit yang jauh lebih cerah jika dibandingkan dengan langit di Indonesia, langit di Indonesia sering kali berkabut dikarenakan konsentrasi polusi udara yang menumpuk. Tetapi sadar atau tidak sadar, di satu sisi, penumpukan polusi udara di Indonesia secara tidak langsung memberikan dampak positif karena menjadikan tingkat radiasi langsung dari sinar matahari jadi tidak terlalu tinggi. Di, Australia tingkat radiasi langsung dari sinar matahari menempati posisi teratas dunia, maka potensi terjangkit kanker kulit sangat besar. He..he…sebenarnya aku gak punya wewenang ilmiah untuk menyimpulkan hal diatas, background pendidikanku Sastra Inggris, jadi buat teman-teman yang lebih berkompeten, kalau analisisku tadi salah, mohon maaf ya.
Di Byron Bay, tepatnya di puncak bukit di sana terdapat mercu suar. Untuk mencapai kesana kami harus melalui puluhan bahkan mungkin ratusan anak tangga. Cuaca pada saat itu cukup panas, karena sudah mulai memasuki summer. Aku pun menapaki anak tanggga satu per satu, sebenarnya aku sudah merasa lelah, tetapi aku tetap memaksakan diri, karena sebentar lagi sampai di puncak tebing yang telah diberi pagar dan terdapat beberapa tempat duduk, sehingga orang-orang bisa melihat pemandangan laut dari sana dengan aman dan nyaman. Setelah bersusah payah, akhirnya aku bisa mencapai puncak tebing tersebut, tetapi pandanganku menjadi kabur, semuanya mendadak tampak berwarna jingga, sepertinya aku mau semaput. Is it for real? I can't believe it. Kemanakah semua kemmapuanku selama ini sebagai seorang yang sering berpetualang naik gunung???#@$%^ Aku pun segera mencari tempat duduk, minum sedikit air dan menjejalkan beberapa butir permen ke dalam mulutku, serta mengatur napas. Penglihatanku berangsur-angsur membaik, Alhamdulillah…..aku tidak jadi pingsan, kalau memang aku pingsan, pastinya akan memalukan sekali. Setelah sesumbar kalau aku lebih suka berkunjung ke tempat-tempat yang berhubungan dengan alam, ternyata hanya dengan menaiki beberapa anak tangga saja sudah pingsan. Akhirnya kami pun sampai di mercu suar, lalu menuju rumah yang diperuntukkan bagi penjaga mercu suar tersebut, tetapi sekarang sudah tidak dipergunakan lagi karena semuanya memakai sistem komputerisasi, rumah tersebut beralih fungsi menjadi museum. Setelah itu, kami membeli home made ice cream di rumah tersebut, aku memilih rasa "macademian mango". Bibiku bilang itu adalah pilihan yang tepat karena macademian adalah kacang native Australia. Setelah beberapa saat aku baru tersadar, sepertinya lidahku lebih akrab dengan kacang suuk (bahasa sunda dari kacang tanah) rebus, rasa dari macademian tak lebih layaknya kacang mentah di lidahku (dasar udik…tidak terbiasa makan kacang mahal).
Staying in My Auntie's House
Setelah sejadi-jadinya pergi kesana kemari pada minggu pertamaku di Aussie, minggu kedua dan ketiga, kami lebih banyak diam di rumah. Pamanku yang asli keturunan Belanda adalah seorang pelukis, ia sudah mulai sibuk menorehkan cat air di atas kanvas kembali, karena harus segera mengejar target menyelesaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan di sebuah gallery seminggu sebelum natal. Sepupuku kurang lebih sama, ia adalah mahasiswa jurusan Game Programer. Ia berencana untuk melamar kerja, dan apabila ia berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut, waktu kuliahnya bisa lebih singkat selama satu semester. Maka dari itu, ia sibuk membuat port-folio di web site pribadinya, hal ini akan mempermudah komite yang akan menerimanya kerja nanti untuk menilai kemampuannya (setelah kembali ke Indonesia, aku mendapat kabar bahwa sepupuku berhasil mendapat pekerjaan tersebut, selain itu ia mendapatkan hadiah sebuah note book dari kedua orang tuanya. Well done my cousine!). Bibiku sendiri sibuk dengan turnamen golf. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu dengan berenang dan bermain gitar dengan sedikit bersenandung sumbang. Aku dan bibiku pun sempat mengajak Tiro (anjing peliharaan sepupuku) berjalan-jalan keliling area surburban residence disana.
Di Australia, hampir tidak ada kesenjangan sosial, mayoritas penduduknya berada di level menengah dan tinggal di surburban area. Rumah-rumah di surburban area tersebut kalau di Indonesia bisa digolongkan ke dalam kompleks elite. Pada umumnya masyarakat di sini sangat ramah, tidak komunal atau sangat fokus pada tujuan hidupnya masing-masing, mencintai profesinya, bersemangat, disiplin, dan ketika bersosialisasi sangat toleran. Aku seperti menghadapi sebuah fakta yang dikotomi, bagaimana mungkin negara-negara maju seperti Australia, Inggris, dan terutama Amerika yang masyarakatnya begitu modern, dinamis, dan beradab, memiliki kebijakan politik yang mendukung aksi holocaust dan genosida abad millennium Israel terhadap Palestina.
Spring Brook National Park, Southport Broadwater, Minggu 7 Desember 2008
Di taman nasional ini pamanku bilang kalau aku akan melihat air terjun kembar dan suasananya seperti di negeri dongeng. "Kita akan bawa Cin (nama panggilanku) kembali ke Indonesia!" Taman nasional Spring Brook adalah hutan hujan, jadi suasananya kurang lebih sama dengan Indonesia, lembab, basah, dan berlumut yang membedakannya hanyalah di taman nasional ini jauh lebih bersih dan terawat. Ternyata Australia pun memiliki hutan hujan yang cukup besar dan indah, yang bisa berfungsi sebagai jantung dunia dalam mengurangi polusi-polusi gas rumah kaca. Ternyata benar, keadaannya seperti di negeri dongeng, pohon-pohon besar berlumut yang sudah berusia ratusan tahun.
Ketika kami menuju tempat air terjun kembar, hujan tiba-tiba turun, kami pun berlarian masuk ke dalam mobil. Ah…sayang sekali, kami hanya sempat melihat air terjun kembar nan jelita itu dari kejauhan, padahal untuk bisa sampai ke taman nasional tersebut kami harus menempuh jarak yang cukup jauh dan melaui jalan yang berkelok-kelok.
Kami pun pulang dan kembali melalui rute yang berkelok-kelok. Di tengah perjalanan hujan pun berhenti, lalu pamanku membawa mobil menuju Southport Broadwater agar aku bisa melihat burung-burung pelican yang sedang berbaris di sana menunggu diberi makan. Ternyata burung-burung pelican itu memang sangat elok, mereka berbaris rapi di satu titik yang sama karena di tempat tersebut lah biasanya orang-orang memberi makan burung-burung tersebut.
Queensland Sate's Library, Rabu 10 Desember 2008
Sepupuku mendapat informasi dari salah satu temannya bahwa ada lodging, rumah kost-kostan di Brisbane yang sedang open house untuk mencari penyewa baru. Sepupuku yang kuliah di Queensland University of Technology, Brisbane harus menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam pulang pergi dari Gold Coast ke Brisbane. Jadi ketika ia mendapat informasi tersebut, ia sangat senang dan tertarik untuk melihat kondisi kamar kost-kostan tersebut. Kami semua pun pergi menuju Brisbane. Tapi sayang sekali, menurut sepupuku kondisi kamar tersebut terlalu kecil, sehingga berada di dalamnya akan terasa seperti di penjara, fasilitas yang ada di dalam kamar tersebut yaitu satu buah ranjang, satu buah pesawat televisi, meja belajar, dan lemari yang menempel di dinding (tidak seperti di Indonesia, lemari-lemari pakaian di Aussie biasanya adalah diding yang diberi pintu geser, dan dinding-dinding di dalam rumah yang memisahkan satu ruangan dengan ruangan lainnya pun biasanya tidak terbuat dari bata tetapi kayu tripleks yang diberi kerangka, apabila teman coba mengetuk dinding disana akan terdengar bahwa bagian tengahnya berongga tidak padat seperti bata. Oleh sebab itu, dinding rumah disana pengerjaannya terlihat sangat halus, rapi, dan simetris, serta tidak mungkin kita menemukan retakan-retakan di dinding). Menurutku fasilitas yang ada di kamar kost tersebut cukup canggih meskipun kamar mandi dan dapurnya harus berbagi dengan penghuni lainnya, tapi ya..ukuran kamarnya memang kecil.
Dalam perjalanan pulang kami mampir ke Perpustakaan Daerah Queendsland untuk melihat pameran seni. Gedung perpustakaannya sangat besar jadi beberapa bagiannya digunakan untuk pameran seni dan cafe, khususnya yang dekat dengan taman. Pameran seni ini sangat luar biasa, walaupun aku tidak sepenuhnya mengerti seni beraliran optimism yang sedang digelar pada saat itu, tapi pada umumnya aku sangat terkagum-kagum melihat karya seni yang berupa lukisan, foto, bahkan tumpukan kardus, scooter yang berbentuk seperti hewan yang sedang duduk, dan patung perempuan raksasa sedang berbaring di kasur yang sangat mirip seperti manusia asli, bahkan kita pun bisa melihat guratan urat-urat nadi dan vena di pergelangan tangan patung raksasa tersebut. Kalau saja pameran-pameran seni di Indonesia bisa diakses dengan mudah oleh semua lapisan masyarakat tentunya aku akan sering berkunjung ke pameran-pameran tersebut, tetapi hal tersebut hanya bisa terwujud apabila masyarakat kita telah memiliki tingkat kesadaran dan disiplin yang tinggi untuk tidak merusak ataupun memegang dan menyentuh benda-benda seni yang dipamerkan, entah kapan teman hal ini akan terwujud.
Going Hooooome, Jum'at 12 Desember 2008
Tidak terasa tempo tiga minggu berlalu begitu cepat, tiba saatnya kembali ke Indonesia. Walaupun awalnya sedikit menegangkan, terutama ketika baru pertama kali tiba di Australia, takut kalau aku tidak mampu menyesuaikan diri, tetapi ketika harus meninggalkannya terasa cukup berat. Kesempatan untuk mempraktekan Bahasa Inggris dan mempelajari budaya asing habis sudah, padahal aku belum mempelajarinya secara maksimal. Apa boleh buat, keluargaku di Indonesia sudah sangat mengaharapkan aku pulang, bisakah kau bayangkan teman apa jadinya Indonesia tanpa orang seperti aku?&*%$? (hua..ha..ha..jangan pada muntah gitu dong, ya pastinya Indonesia akan baik-baik aja). Fakta sebenarnya adalah, apa boleh buat, masa mau nunggu diusir, udah datang diongkosin, pulang dibayarin, makan tidur gratis, pergi tamasya dianterin, mau berapa lama lagi bikin repot? Pulang sana ke Indonesia! Yo wis.. aku pulang.
Keluargaku mengantar kepergianku pagi-pagi sekali, agar aku tidak terlalu terburu-buru menyiapkan segala sesuatunya sesampai di bandara, atau panik takut ketinggalan pesawat. Perjalanan pulangku cukup menyenangkan, aku sangat menikmati makanan yang disediakan di pesawat (karena memang dasarnya udah gragas alias pemakan segala). Dari keseluruhan pertemuanku dengan kebudayaan asing dan pergulatanku harus menyesuaikan dengan kebudayaan tersebut, aku tidak menemukan kesulitan yang sangat berarti. Tapi kesulitan yang paling besar kurasakan adalah ketika mengajukan pembuatan paspor (para petugas di kantor keimigrasiannya itu lho, seperti yang kuceritakan di awal. Meskipun demikian, tidak semuanya berperilaku menyebalkan, ada dua orang petugas perempuan yang sangat baik, benar-benar pelayan masyarakat sejati dan memiliki profesionalitas tinggi). Selain itu, aku pun harus berusaha mati-matian mematut-matut diri agar tampak seperti orang yang pantas pergi ke luar negeri, contohnya aku gak mungkin mengepak bajuku ke dalam kardus. Untungnya kakak-kakakku sangat baik hati, semua tas yang kupergunakan adalah sponsor dari kakak-kakakku. Mereka rela travel bag, bag pack dan hand bag-nya aku bawa berkelanan ke negeri kangguru, "Biarlah walaupun belum pernah pergi ke Australia, seenggaknya tas-tas kakak sudah pernah," itulah mantra-mantra penenangan diri sendiri yang mereka utarakan.
Akhirnya aku tiba di Indonesia, udara panas Jakarta langsung menyergap tubuhku. Rasanya indah pulang kembali ke kampung halaman sekaligus pahit karena harus kembali bergulat dengan keadaan susah mencari pekerjaan sedangkan praktek korupsi merajalela setiap hari, masa depan tak jelas karena segala-sesuatunya tak ada yang jelas di negeri ini, hawa keputusasaan yang sangat kental, budaya komunal tetapi mau enaknya sendiri, dan masih banyak lagi yang lainnya. Begitulah potret Indonesia, negeri yang amat kucintai. Aku memang suka pergi bertualang menjelajahi negeri-negeri asing, bersentuhan dengan budaya baru, dan mempelajari hal-hal positif yang ditemukan di sana, serta bercita-cita untuk mereguk ilmu sebanyak-banyaknya di negeri orang tetapi aku pasti akan kembali, kembali untuk menemukan cinta, cita dan posisi sejatiku di alam jagat raya ini……
Tulisan ini kupersembahkan untuk saudara-saudaraku yang baik hati (kedua kakak perempuanku, kakak ipar dan adik laki-lakiku seorang), dan tentunya keluarga di Down Under yang telah banyak berkorban untuk memberiku sebuah penglaman yang sangat berarti. Dengan sepenuh hati kuucapkan terima kasih……

No comments:
Post a Comment