Thursday, March 5, 2009

Interpretasi Terdadap Puisi Karya Edward TaylorYang Berjudul“Huswifery”

    Menginterpretasi sebuah puisi tidaklah mudah, karena dalam memaknainya mungkin saya akan bertanya-tanya, haruskah saya memahaminya sebagai pengalaman pribadi atau pengalaman si penyair itu sendiri? "The point is that many, if not most, of the statement in poetry are there as a means to manipulation and expression of feelings attitudes, not as contributions to anybody of doctrine of any type wathever" (Richards dalam Adams, 1971: 850-851) Apalagi dalam puisi itu, saya tidak menemukan adanya kontribusi dari ekspresi perasaan siapapun.

    Tetapi dalam puisi berbentuk narasi seperti halnya "Huswifery" karya Edward Taylor, tentu tidaklah terlalu sulit karena secara langsung dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut merupakan refleksi dari si pengarang. Walaupun demikian, "Huswifery" adalah puisi meditatif yang memiliki nilai filosofis yang mendalam, maka tidak menutup kemungkinan pula, puisi ini akan dihadapkan dengan beberapa konsekwensi. "On the one hand there are very many people who, if they read any poetry at all, to take all its statement seriously – and find them silly" (Richards dalam Adams, 1971: 851).

    Akan sangat ironis sekali, sekaligus lucu dan naif, apabila dalam memaknai puisi berdasarkan kata-kata yang tertulis dan menanggapi dengan serius secara apa adanya kata-kata tersebut. Tapi di sisi lain, justru puisi juga bisa termaknai lebih mendalam dengan adanya penggunaan perumpamaan-perumpamaan yang tampak tidak masuk akal itu sendiri.

    Karena bagaimanpun, ungkapan-ungkapan yang tidak masuk akal akan sangat sering kita jumpai dalam bahasa-bahasa puisi, mengingat puisi memang merupakan karya yang bersifat fiksi. "A poet may distort his statements which have logically nothing to do with the subject under treatment: he may, by metaphor or otherwise, present objects for thought which are logically quite irrelevant" (Richards dalam Adams, 1971: 851).

    Terlepas dari hal-hal yang diutarakan diatas, saya telah berangkat dari asumsi dasar bahwa sebuah puisi memang tercipta dari perenungan yang mendalam dari sang penyair terhadap kehidupan. Maka dari itu, walaupun mungkin saya akan memiliki interpretasi yang berbeda dengan orang lain dalam memaknai puisi "Huswifery," tidak menutup kemungkinan, bahwa pada akhirnya akan menemukan titik temu yang sama apabila berangkat dari asumsi dasar yang serupa.

    Pencitraan yang terdapat di puisi "Huswifery" tampaknya diambil dari sejarah kehidupan Taylor sendiri dari pengalaman masa lalunya yang harus bekerja keras mencari nafkah dengan menjalankan mesin pemintal. Disamping itu, ia mengeksplorasi kenyataan hidup yang ia alami dalam mengungkap kebesaran Tuhan. Dari puisi tersebut, bisa terlihat respon Edward Taylor terhadap hidup yang ia jalani     didasarkan pengetahuannya tentang keagungan Tuhan.

    Di bait pertama, Taylor memohon kepada Tuhan untuk menjadikan dirinya sebagai roda tenun Tuhan, yang artinya ia ingin menjadi orang yang diberi petunjuk dan iman yang kuat dalam memahami ayat-ayat Tuhan, sehingga ia bisa menjalani kehidupannya dan menyinari orang-orang di sekelilingnya dengan kebaikan. Taylor menggunakan perumpamaan menenun dengan menghubungkan fungsi dari bagian-bagian mesin tenun dengan berbagi karakteristik manusia. Rasa cinta dan kasih sayang sebagai kemudinya (pemutar yang membelit wol ke dalam benang), jiwa adalah kumparan yang mengumpulkan benang, dan komunikasi antara Taylor dengan Tuhan terjadi ketika mesin tenun itu berputar.

    Pada bait ke dua, kiasan dari pembuatan kain mengandung arti yaitu, jiwa yang bersih akan memutar kumparan dan Tuhan yang akan menciptakan jaringnya, dan mengatur polanya diatas benang yang sedang dipintal tersebut. Kemudian jiwa yang bersih itu akan menenun pola teladan tersebut untuk membangun pakaian keselamatan. Peraturan atau hukum Tuhan diumpamakan dengan pola, yang apabila diataati maka akan mempertebal kain untuk membuat baju keselamatn tersebut. Akhirnya kain yang dihasilkan akan ditaburi pola-pola indah yang melambangkan nilai-nilai surgawi.

    Bait ketiga melukiskan perubahan bentuk kain yang akan meliputi nilai-nilai kemanusiaan dan sifat menentangnya, pemahaman tentang kasih sayang, dan suara hati. Maka pakaian itulah yang akan menaungi Taylor untuk selalu berkata-kata dan bertindak, sebagaimana peringatan dari Tuhan untuk selalu memuliakan surga, sehingga ketika hari akhir tiba ia akan menemukan kemuliaan dalam peristirahatan abadinya..

    Huswifery mungkin bisa dikatakan sebagai puisi yang memiliki makna simbolis, dimana pola menyimbolkan moral. Walaupun puisi ini apabila dilihat dari segi penggunaan katanya cukup sederhana tetapi mampu merepresentasikan pesan yang sangat mendalam mengenai kehidupan. Taylor pertama-tama melukiskan pemintalan benang, kemudian menenunnya hingga menjdi kain, dan kemudian menghasilkan sebuah baju, merupakan smbol dari tahapan yang harus dilalui manusia agar memiliki fondasi keimanan yang kuat.

    Dengan penggunaan fondasi keimanan tersebut, Taylor mengakui adanya kedaulatan Tuhan yang lengkap. Ia memohon kepada Tuhan agar diberi kepercayaan untuk bisa menjadi seseorang yang bisa menyampaikan amanat Tuhan. Maka dari itu, sebagai seorang penyair, Taylor menghiasi puisinya dengan gambaran mengenai agama.

Walaupun tidak dapat dipastikan bahwa interpretasi terhadap puisi Edward Taylor yang berjudul "Huswifery" terpahami berdasarkan pengalaman pengarang atau bukan, setidaknya pasti ada beberapa hal yang dapat tersepakati bersama.



"The reader is invited to perceive and judge the truth of the the text, the coherent, non-contradictory interpretation of the wolrd as it is perceived by an author whose autonomy is the source and evidence of the truth of the interpretation" (Belsey in Con Davis, 1984: 361).





Karena ketika pembaca diundang untuk merasakan dan menilai secara langsung kebenaran karya, maka iterpretasi yang benar dapat terbuktikan apabila tidak dirasakan terdapat hal yang berlawanan dengan apa yang dirasakan penulis dalam menuangkan gagasannya ke dalam karya sastra, sebagai media untuk menuangkan kembali nilai kehidupan yang termaknai dalam karya tersebut.



    



Referensi:

Adams, Hazard (Ed), Critical Theory Since Plato 2, (London: Harcourt Brace and Jovanovich, Publishers, 1971)

Con Davis, Robert and Ronald Schleifer, Contemporary Literary Criticism: Literary and Cultural Studies, (New York & London: Longman 1984)

Johnson, Thomas H. (Ed), The Poetical Works of Edward Taylor, (Princeton University Press, 1943)

No comments: