Tema dalam sebuah karya sastra adalah konsep abstrak yang merupakan hasil eksplorasi si pengarang, biasanya dimunculkan juga secara tidak langsung dari penggambaran setting atau latar, plot, karakter, dan lain-lain.
Tema dalam puisi "The Raven" karya Edgar Allan Poe, dan "Divina Comedia" karya Henry Wordsworth Longfellow adalah kematian, tetapi makna atas kematian itu sendiri belum tentu bisa dtafsirkan sama pada setiap penyair.
Kematian pada dasarnya merupakan sesuatu yang pasti dialami oleh semua mahluk hidup di dunia. Ada sebagian orang berpandangan bahwa kematian adalah akhir kehidupan.
Orang yang berasumsi demikian berangggapan bahwa segala penderitaan yang dialaminya akan berakhir setelah kematian terjadi. Namun sebagian lain berasumsi bahwa kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Karena kematian bermula bersama mulainya kehidupan manusia di alam lain yang dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi.
Kematian akan menghampiri setiap jiwa manusia, memungkinkan kita untuk kehilangan orang yang kira kasihi. Oleh karenanya tidak sedikit manusia yang bersedih atas fenomena tersebut. Tetapt di lain sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa tiada satupun manusia yang bertahan hidup di muka bumi betapapun kekuatan dan kekuasaanya. Sebab, kematian merupakan sebuah ketetapan bagi seluruh mahluk bernyawa. Ini adalah kenyataan yang tidak terbantahkan oleh siapapun.
Tetapi disisi lain, kematian merupakan ketentuan demi terjaganya kelestarian alam. Sebab tanpa kematian, bumi akan tampak suram dan mengerikan. Tanpa kematian, dunia yang ada akan sesak oleh umat manusia yang terus terlahir dan tidak mengalami kematian.
Berdasar pada perbedaan penafsiran seseorang atas hakikat kematian, hal ini dapat dibahas dalam teori dekonstruksi atau poststrukturalismne. Dasar teori dekonstrusi adalah struturalisme. Struturalisme yang berkembang sejak tahun 1930-an dievaluasi selam kurang lebih setengah abad, ,maka sekitar tahun 1980-an direvisi oleh teori dekonstruksi.
Hubungan antara strukturalisme dengan dekonstrusi sangat kompleks.
Struturalisme dianggap memiliki kelemahan dengan alasan: a. belum memiliki syarat sebagai teori yang lengkap, b. karya seni tidak bisa diteliti secara terpisah dari struktur sosial, c. kesangsian terhadap struktur objektif karya, d. karya dilepaskan dari relevansi pembacanya, dan e. karya sastra juga dilepaskan dari relevansi sosial budaya yang melatar belakanginya. Di satu pihak strukturalisme mementingkan pola-pola, di lain pihak menekankan adanya satu arti. Oleh karena itulah, struturalisme perlu disempurnakan, secara keseluruhan dilengkapi oleh poststrukturalisme. (Teeuw dalam Kutha Ratna: 1988, 160-161)
Adapun karakteristik teori dekonstrusi yaitu,
Ciri khas poststrukturalisme adalah ketidakmantapan teks. Makna karya ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh teks, bukan apa yang dimaksudkan, sehingga terjadi pergeseran dari estetika produksi, estetika konsumsi, penerima menjadi pencipta. Makna teks tidak diproduksi melalui kontemplasi pasif, tetapi partisipasi aktif. Karya bukan milik pengarang, melainkan milik pembaca, karya sebagai anonimitas, tidak ada karya pertama, semua intertekstual. Makna teks tergantung pada konteks, interaksi pada pembaca, teks tidak tertutup, tetapi terbuka sebab secara terus menerus berinteraksi keluar dirinya. (Kutha Ratna: 1988, 161)
Di dalam puisi Edgar Allan Poe, yang berjudul "The Raven" pada stanza ke-9 disebutkan bahwa, "For we cannot help agreeing that no living human being" yang berarti bahwa kematian menurut Poe dalam puisi tersebut adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, karena tidak ada makhluk yang hidup abadi. Sehingga kematian merupakan akhir dari perjalanan hidup setiap makhluk. Selain itu, dalam puisi tersebut diterangkan bahwa narator sangat kehilangan seseorang yang berarti, yang bernama Lenore. Hal ini terlihat pada bait ke-2, "From my books surcease of sorrow-sorrow for the lost Lenore" kutipan ini mengasumsikan bahwa kematian yang terjadi pada seseorang yang kita kasihi membawa kesedihan yang mendalam.
Berbeda halnya dengan puisi Henry Wordsworth Longfellow yang berjudul "Divina Comedia," kematian ditafsirkan sebagai pintu gerbang menuju kehidupan yang baru, seperti dalam stanza pertama baris ke-13 dan 14 puisi tersebut yaitu, "To inarticulate murmurs dies away, While the eternal ages watch and wait." Kematian adalah sesuatu yang harus dilalui sebelum menuju kehidupan abadi.
Pada stanza ketiga baris kelima dan enam, "The congregation of the dead make room, For thee to pass; the votive tapers shine;" dapat ditafsirkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menyedihkan, tetapi dengan kematian kita akan membuka pintu untuk menuju ruang baru kehidupan lain. Kematian bukanlah merupakan hal yang harus ditakuti, melainkan sebuah jalan menuju keabadian. Selain itu hal ini dipertegas pada stanza kelima baris kedua dan tiga , "With forms of Saints and Holy men who died, Here martyred and hereafter glorified," orang yang suci, yang tidak menghiasi masa hidupnya dengan dosa, akan menemui kejayaan dan kehidupan yang indah setelah akhir hayatnya di dunia.
Dari dua puisi terlihat adanya perbedaan tentang kematian, Poe beranggapan bahwa kematian adalah berakhirnya kehidupan manusia, atau dalam kata lain akhir dari kehidupan. Sedangkan menurut Longfellow, kematian adalah babak baru dari kehidupan abadi, maka kematian bukanlah sesuatu hal yang harus ditangisi.
Perbedaan asumsi mengenai kematian sangat relevan apabila dibahas melalui teori dekonstruksi, dimana pembaca akan diajak untuk memiliki interpretasi masing-masing dalam memaknai sebuah karya.
"The reader is invited to perceive and judge the 'truth' of the text, the coherent, non-contradictory interpretation of the world as it is perceived by an author whose autonomy is the source and evidence of the truth of the interpretation." (Belsey in Con Davis, 1984: 361).
Maka dapat disimpulkan bahwa menurut interpretasi kami, kematian menurut Edgar Allan Poe dalam puisinya "The Raven," adalah akhir dari kehidupan manusia. Sedangkan dalam Puisi Henry Wordsworth Longfellow dalam puisinya "Divina Comedia" ada dekontruksi terhadap makna kematian, yaitu awal dari kehidupan baru yang abadi.
Referensi:
Con Davis, Robert and Ronald Schleifer, Contemporary Literary Criticism: Literary and Cultural Studies, (New York & London: Longman 1984)
Kutha Ratna, Nyoman, S. U., Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme Hingga Poststrukturalisme, Perspektif Wacana Naratif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)
Longfellow, Divina Comedia, (http://www.gracepoints.com/poems/gpdivina.php)Poe, E. A. , The Raven, (http://www.schoollink.org/csd/pages/engl/poepoetr.html)
No comments:
Post a Comment