Saturday, December 5, 2009

Pengantar Kritik Sastra

1. Karya Sastra

Sastra secara harfiah berarti huruf atau tulisan, dalam makna luasnya yaitu pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah direnungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik, pengungkapan seseorang mengenai dunia angan-angan yang dikhayalkannya sebagai dunia nyata atau pada hakekatnya adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa (Hardjana, 1991).


  2. Bentuk-Bentuk Karya Sastra
    1. Prosa    : Cerpen, Novel, Esai
    2. Puisi    : Sajak, Pantun
    3. Drama    : Naskah Drama, Teater, Film
      3. Kritik Sastra

      Kritik sastra adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Tujuan kritik sebenarnya bukan menunjukkan keunggulan, kelemahan, benar/salah sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin dan mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.

      Ada 2 jenis kritik sastra:



      1. Kritik sastra intrinsik -> fokusnya pada karya sastra itu sendiri dan menganalisa unsur-unsur karya sastra itu.





      2. Kritik sastra ekstrinsik -> Menghubungkan karya sastra dengan hal-hal diluar karya sastra. Misal: menghubungkan karya sastra dengan pengarangnya, karya sastra dihubungkan dengan ilmu psikologi, agama, sejarah, filsafat. 

        4. Langkah-Langkah Sederhana dalam Proses Kritik Sastra



        Aktivitas kritik sastra mencakup 3 (tiga) hal, yaitu menganalisis, menafsirkan, dan menilai. Adapaun langkah-langkahnya antara lain sebagai berikut:



        1. Pilih salah satu karya sastra dalam bentuk apapun (prosa, puisi atau drama) untuk kemudian dibaca;





        2. Setelah membaca karya sastra tersebut mungkin akan timbul perasaan senang, kagum, bosan atau bahkan jengkel;





        3. Ungkapan perasaan tersebut kemudian dituangkan dalam betuk tulisan, hal ini tidak akan terlalu sulit karena dapat dibarengi dengan ringkasan atau mengutip beberapa bagian dari karya sastra yang dibaca tadi.  

          5. Peranan/Fungsi Kritik Sastra





          • Kritik sastra berfungsi bagi perkembangan sastra. Dengan kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreativitas sastrawan, dan pada akhirnya akan meningkatkan perkembangan sastra itu sendiri.





          • Kritik sastra berfungsi untuk memberi penerangan bagi penikmat sastra. Dalam melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar, menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya sastra yang dikritik sehingga membantu pembaca yang mendapat kesulitan memahami karya sastra.
            Selain itu, kritik sastra pun dapat membantu pembaca memilih yang terbaik dari sejumlah alternatif bacaan.





          • Kritik sastra berfungsi bagi ilmu sastra itu sendiri. Analisis yang dilakukan kritikus dalam mengkritik harus didasarkan pada referensi-referensi dan teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra baru yang seperti inilah yang justru akan mengembangkan ilmu sastra itu sendiri, dimana seorang pengarang akan dapat belajar melalui kritik sastra dalam memperluas pandangannya, sehingga akan berdampak pada meningkatnya  kualitas karya sastra. 

            6. Beberapa Teori/Pendekatan dalam Kritik Sastra



            1. Strukturalisme
            2. Pos-strukturalisme/Dekonstruksi
            3. Kolonialisme
            4. Pos-kolonialisme
            5. Feminisme
            6. Marxisme
            7. Psikoanalisa
            8. Multikulturalisme


            • Strukturalisme

              Pendekatan sastra strukturalisme adalah pendekatan yang membagi sebuah karya sastra berdasarkan strukturnya. Struktur adalah kaitan-kaitan tetap  antara kelompok-kelompok gejala dalam karya sastra, misalnya membagi tokoh sebuah novel menjadi tokoh utama, tokoh antagonis, tokoh protagonis, dan sebagainya.





            • Pos-strukturalisme/Dekonstruksi

              Pendekatan pos-strukturalisme adalah pendekatan yang menyodorkan sebuah konsep dekontruksi yaitu meragukan kestabilan makna kata dalam setiap teks, apapun itu. Pos-strukturalisme melahirkan sebuah wajah kebudayaan yang plural, dipenuhi oleh berbagai tanda-tanda yang saling tumpang-tindih, dan pemaknaannya berubah-ubah secara cepat.







            • Kolonialisme

              Pendekatan sastra kolonialisme adalah pendekatan yang membahas tentang pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.





            • Pos-kolonialisme

              Pendekatan sastra post-kolonialisme yaitu pendekatan yang muncul atas momen historis kolonialisme. Munculnya poskolonial, dalam konteks ini, dimaksudkan untuk mengembalikan atau memulihkan keutuhan dan kekuasaan masyarakat-masyarakat yang telah dimarjinalkan atau termarjinalkan oleh proses-proses kolonialisasi tersebut.





            • Feminisme

              Pendekatan sastra feminisme yaitu pendekatan yang mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi terhadap perempuan. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tersebut.







            • Marxisme

              Pendekatan sastra Marxis didasarkan pada teori politik dan ekonomi filsuf berkebangsaan Jerman, Karl Marx. Pada karya The German Ideology and The Communist Manifesto (Ideologi Jerman dan Manifesto Komunisme), yang ditulis bersama Frederich Engels, Marx menawarkan suatu model historis di mana kondisi-kondisi politik dan ekonomi mempengaruhi kondisi-kondisi sosial. Marx dan Engels menanggapi ketimpangan sosial yang terjadi karena perkembangan Kapitalisme. Secara khusus, teori-teori mereka terbentuk untuk menganalisa bagaimana fungsi masyarakat di dalam keadaan revolusi dan perubahan yang konstan (terus-menerus).







            • Psikoanalisa

              Pendekatan sastra psikoanalisa adalah pendekatan yang diterapkan untuk menganalisis kondisi kejiwaan si pengarang, proses kreatif, studi tentang prinsip-prinsip dan jenis-jenis psikologi yang dituangkan dalam sebuah karya sastra, atau dampak dari sebuah karya terhadap pembacanya.





            • Multikulturalisme

              Pendekatan sastra multikulturalisme yaitu pendekatan yang membahas tentang persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.


              7. Referensi:



              Hardjana, Andre. 1991. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum

              http://alhaqiir.multiply.com

              http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme

              http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme

              http://www.kabarindonesia.com

              http://sebuahcatatansastra.blogspot.com






              Pendekatan/Teori Sastra Strukruralisme

              Unsur-Unsur Intrinsik dalam Karya Sastra
              Teknik pelaksanaan pendekatan strukturalisme itu ialah menganalisis struktur karya sastra, mencari, atau menentukan sejauh mana keberhubung atau keterjalilan unsur-unsur karya sastra itu bersama-sama dalam menghasilkan makna totalitas. 

              Unsur-Unsur Intrinsik dalam Karya Sastra

                Pendekatan struktural pada karya sastra berbentuk prosa (cerpen/novel) diarahkan pada unsur yang terkandung di dalam karya sastra prosa itu sendiri, diantaranya yaitu penokohan, latar, tema, alur dan pusat pengisahan/gaya penuturan. Unsur-unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Semakin tinggi nilai keselarasan mutu persoalan dan mutu pengungkapan semakin tinggi tingkat keberhasilan suatu karya sastra berbentuk prosa.

                Unsur-unsur yang membangun prosa:           



                1. Penokohan

                  Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang sebuah tokoh/karakter yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dalam kata lain, penokohan atau tokoh adalah pencitraan yang disusun dengan memperpadukan berbagai faktor, yakni kelakuannya sebagai pelaku dalam deretan peristiwa, ruang dan waktu (suasana).



                Cara–cara mengamati tokoh dan melakukan penokohan yaitu sebagai berikut:


                1. "Phisical description" (melukiskan bentuk lahir pelaku).




                2. "Potrayal of thought stream or of conscious thought" (melukiskan jalan pikiran pelaku-pelaku atau apa yang melintas dalam pikirannya. Dengan ini pembaca dapat mengetahui bagaimana watak pelaku itu).




                3. "Reaction to event" (bagaimana reaksi pelaku itu terhadap kejadian).




                4. "Direct author analysis" (pengarang dengan langsung menganalisis watak pelaku).




                5. "Discussion of environment" (melukiskan keadaan sekitar pelaku. Misalnya melukiskan keadaan kamar pelaku, pembaca akan mendapat kesan apakah pelaku itu jorok, bersih, rajin atau malas).




                6. "Reaction of other about character" (bagaimana pandangan pelaku-pelaku lain terhadap pelaku utama).




                7. "Conversation of other about character" (pelaku-pelaku lainnya dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelaku terutama. Dengan tidak langsung pembaca dapat kesan tentang segala sesuatu mengenai pelaku terutama ini). 

                  2. Latar 

                  Latar atau setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Unsur latar dibedakan dalam beberapa indikator yang meliputi; general locale (tempat secara umum); kedua historical time (waktu historis); ketiga social circumstances (lingkungan sosial)





                  1. Latar tempat, yaitu menyarankan pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.




                  2. Latar waktu, yaitu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.




                  3. Latar sosial, yaitu menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. 

                    3. Alur 

                    Alur sering juga disebut plot. Dalam pengertiannya yang paling umum, plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita atau konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku dalam sebuah karya sastra. 

                    Teknik pengaluran ada dua macam yaitu, dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari tahap awal, tahap tengah atau puncak, dan tahap akhir terjadinya peristiwa, yang kedua dengan jalan regresif (flashback/alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atu puncak, dan berakhir pada tahap awal. Selain itu ada pula tang disebut teknik tarik balik (back tracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang, jadi yang ditarik ke belakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu), tetapi alurnya tetap maju atau progresif.




                • Unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah alur adalah peristiwa, konflik, dan klimaks:
                a. Peristiwa

                Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.

                b. Konflik

                Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa (baik perbuatan maupun kejadian) akan sangat menentukan kadar kemenarikan. Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya.


                c. Klimaks

                Klimaks menurut adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya.  

                4. Tema dan Amanat

                1. Tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra atau dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya sastra. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.

                  Dengan kata lain, cerita tentunya akan setia mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik yang lain dapat mencerminkan gagasan dasar umum (baca:tema) tersebut.

                  Amanat adalah "gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacanya.

                  Tema dan amanat sangat erat kaitannya. Amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung dalam tema. Amanat juga merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam rangka menyelesaikan persoalan yang ada. 

                  5. Gaya Bertutur dan Majas



                2. Gaya merupakan sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan.

                  Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis
                  sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.



                Disampaikan pada salah satu kegiatan di "Hari Kunjung" Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, "Workshop Apresiasi Sastra," 3 Desember 2009.

                No comments: