Saturday, December 12, 2009

Kuingin Merubah Dunia!(Soliloquy Seorang Pemimpi)

"Hanya dengan penderitaanlah kita bisa merasakan indahnya kehidupan!" Itulah petikan beberapa kata indah dari seorang motivator ulung negeri ini yang terus menghiasi benak saya seusai menonton sebuah acara di televisi. Memang benar-benar ampuh khasiat dari ungkapan tersebut apabila keluar dari mulutnya. Dari mulut seseorang yang telah meluluh lantakkan cobaan hidup yang luar biasa berat dan kemudian merubahnya menjadi berkah. Cobaan dan berkah tampaknya bukan merupakan dua hal yang teramat kontras baginya. Ia adalah seorang pejuang sejati kehidupan yang terkadang kejam ini.




Ya…saya berpendapat bahwa hidup ini terkadang kejam karena saya sendiri bukanlah orang yang bisa memperoleh apa pun yang saya kehendaki. Semua saya peroleh dengan susah payah. Walaupun kesusahpayahan itu pun belum mampu mengangkat saya menjadi sesuatu. Sejarah bagi saya adalah caci maki, sumpah serapah, kebencian, dan yang paling dekat sekarang adalah manipulasi. Ya…..manipulasi, disaat orang-orang berjuang dengan cara yang halal untuk bisa bertahan dan mempertahankan hidup, sebagian yang lain sibuk memperdaya, menipu dan menari-nari di atas penderitaan orang lain untuk kemenangannya sendiri.



Suatu hari, entah sadar atau tidak, saya pernah bermimpi. Saya ingin merubah dunia. Dunia dimana orang-orang berhenti membuat struktur dan terjerembab di dalamnya. Dunia dimana kaya bukanlah oposisi biner dari miskin yang syarat dengan kesan nista. Lihatlah bagaimana bangsa kita mengimplementasikan konsep pembangunannya. Pembangunan terstruktur yang terus membangun ke atas dengan congkaknya tanpa membuat fondasi yang kuat di bawahnya. Gedung-gedung megah, apartemen, dan mall dibangun hanya untuk mengukuhkan eksistensi segelintir orang kaya negeri ini. Sedangkan orang-orang miskin digusur layaknya hama, dan akhirnya perlahan-lahan hampir seluruh penduduk bangsa ini pun menjadi hama. Karena orang-orang kaya berduit itu pun ikut-ikutan miskin, miskin akan belas kasih pada sesama.



Dunia baru tanpa struktur yang saya maksudkan tentunya bukan secara fisik. Saya tidak setuju dengan revolusi marxisme (sangat bertentangan dengan keyakinan saya), tetapi dunia tanpa struktur dari segi sudut pandang dan ide. Menurut saya kita tidak akan membutuhkan hirarki atau struktur kalau pada dasarnya kita semua adalah sama, yaitu mahluk-mahluk yang berujung dengan kematian. Bagaimana pun keadaan kita ketika hidup di dunia baik kaya, miskin, pria, wanita, cantik, tampan, gemuk, kurus, tinggi atau pendek semuanya akan mati juga, dan apa pun yang kita cita-citakan dan ingin dicapai ketika hidup di dunia diharapkan akan berujung sama yaitu kebahagiaan dunia mapupun akhirat (saya tidak bermaksud mengeneralisasi, tapi selama saya hidup, saya belum pernah bertemu orang yang tidak mau bahagia).



Lalu apakah kebahagiaan itu? Terlalu abstrak dan arbitrer rasanya untuk mencari sebuah definisi dari kebahagiaan. Setiap orang punya hak untuk memberikan makna harfiah secara subjektif terhadap kata tersebut. Buat saya sendiri kebahagiaan adalah tidak mendhalimi diri sendiri atau orang lain. Apabila kita berbuat jahat pada orang lain sebenarnya yang akan paling menderita adalah diri kita sendiri. Sepaham dengan yang dikatakan Kahlil Gibran, "Sesungguhnya orang lain itu adalah diri pribadimu jua yang paling peka dalam raga lain."



Ketika ada seseorang memaki, memfitnah, menipu, mengejek, menghianati, atau memanipulasi diri kita, mungkin kita akan marah, sedih, sakit hati dan menangis sejadi-jadinya. Tetapi tunggulah beberapa saat kemudian, seiring waktu berjalan kita akan melupakan dan memaafkannya selama kita tidak terpapar penyakit dendam. Namun bayangkan apabila kita adalah pelaku caci-maki, fitnah, penipuan atau manipulasi tersebut, betapa kasihan dan menyedihkannya diri kita. Apakah kita akan mampu dengan mudahnya melupakan atau memaafkan diri kita sendiri? Dan akan lebih parah lagi kalau kita tidak pernah mencapai titik insyaf dan membawa perilaku-perilaku buruk itu sampai akhir nafas. Maka dari itu, para kaum tertindas negeri ini bangkitlah dari keterpurukan dan sadarilah kalian adalah orang-orang beruntung, walaupun hidup kalian susah karena himpitan kemiskinan dan minimnya kesempatan, tetapi kalian tidak perlu khawatir karena kebahagiaan akan tetap berada di depan mata kalian selama kalian tetap berbuat baik dan jujur.



Lalu sebenarnya apa yang memicu seseorang untuk berbuat jahat pada orang lain? Jawaban saya sudah pasti tertuju pada sudut pandang terstruktur. Salat satu contoh buruk dari sudut pandang terstruktur dapat diilustrasikan dengan perilaku para kolonialis barat yang memandang bahwa dunia di luar barat berbeda. Perbedaan tersebut melahirkan opsisi biner yaitu barat dan timur. Barat sibuk membangun citranya sebagai bangsa yang dominan, kuat, dan terdidik, sebaliknya timur dipandang sebagai bodoh, lemah dan tidak terdidik. Maka mereka merasa sah saja untuk menjajah, mengatur, dan menginvasi timur dengan dalih untuk mendidik bangsa timur. Setelah bangsa-bangsa jajahan dimerdekakan secara politik, sudut pandang barat-timur tetap dipertahankan dengan menjadikan negara-negara bekas koloni barat sebagai target market untuk produk-produk yang mungkin saja di barat sendiri sudah out of date. Selain itu, timur pun dijadikan daerah penyebaran ideologi barat. Buktinya ketika ada negara timur yang mememegang teguh ideoligi yang berbeda dengan barat dan ingin melepaskan diri dari ketergantungan terhadap barat, negara tersebut harus siap dicap sebagai ancaman terhadap dunia. Negara-negara barat akan segera membentuk aliansi untuk menghancurleburkan negara malang yang idealis tersebut.



Sudut pandang terstrukturlah yang membawa kita pada dikotomi bahasa. Ada superior maka ada inferior, pintar-bodoh, kaya-miskin, mendominasi-didominasi, menjajah-dijajah, atau menindas-ditindas. Lalu bagaimana dengan lelaki dan perempuan? Tentunya lelaki dan perempuan memang berbeda secara kodrat, tapi pada dasarnya sama yaitu mahluk yang terlahir dengan akal dan budi, kalau masa lelaki merasa perlu aktualisasi diri dengan terus menambah ilmu dan bekerja, mungkin sebagian wanita pun punya mimpi yang sama seperti itu selain menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya.



Tapi bukankah kalau kita tidak berbuat jahat pada orang lain maka orang lain yang akan berbuat jahat pada kita? Kalau tidak memaki maka kita akan dimaki? Pola pikir tersebut tidak mustahil akan terus berkembang dengan tujuan mencari pembenaran atas perbuatan-perbuatan nista, padahal kita bisa merubahnya dari sekarang. Berhentilah berpikir dengan sudut pandang terstruktur, yaitu subjek dan objek. Ketika orang lain menghina kita, kita akan merasa sakit hati karena kita berpikir bahwa kita adalah objek penderita. Akan puas rasanya apabila bisa membalas perbuatan orang itu. Tapi apabila kita berpikir bahwa seseorang bisa menjadi subjek, memiliki ideologi, sikap, perbuatan, tindakan, dan perkataan karena ia adalah objek dari lingkungan yang membentuknya. Tidak perlu kita merasa sakit hati atau terhina kalau kita sadar bahwa orang yang melukai kita hanyalah objek penderita dari lingkungannya yang tidak bersahabat. Orang yang melakukan kejahatan pada dasarnya adalah para pecundang yang kurang berprinsip dan berserah diri pada nasib. Mengapa kita harus sakit hati pada seorang pecundang yang sangat menyedihkan? Dan akan lebih menyedihkan lagi tentunya kalau kita memutuskan untuk melebur dan bergabung menjadi sesamanya atau bahkan lebih parah darinya.



Di hari lain ketika saya tersadar dari mimpi saya, saya merasa sangat bahagia karena saya menemukan betapa indahnya hidup ini. Saya tidak menemukan segala bentuk penindasan, semua orang hidup dalam kedamaian yang sangat harmonis. Tidak ada jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, pintar dan bodoh, ketika semuanya dihiasi kekayaan hati. Orang kaya tidak perlu sombong dan miskin tidak pula merasa hina. Pintar dan bodoh bekerja sama bahu membahu dalam lingkaran kecerdasan mental yang menakjubkan. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam kebohongan besar, yaitu berhenti mengejar mimpi yang mereka cita-citakan yang tidak lain merupakan takdir sejati yang telah digariskan bagi mereka, dan menyerah pada nasib.



Catatan: Seseorang yang menulis beberapa baris kalimat diatas sangat jauh dari perasaan merasa lebih benar atau lebih baik dari orang lain, terlebih lagi memposisikan dirinya sebagai seorang alim yang kesepian. Ia hanya orang bodoh, naif dan sok tahu yang memberanikan diri untuk mencoba bermimpi.

No comments: