Hembusan angin pagi pun menyapa wajahku dan
membawaku pada kenangan bersama orang-orang terkasih.
Sahabat-sahabat kecil pada masa sekolah dulu.
Masa yang sangat indah dimana aku bisa begitu sombong
dalam menapaki hari dan menggantungkan mimpi setinggi-tingginya.
Cuaca di hari minggu ini tidak bisa dibilang cerah tidak juga mendung, tapi dingin seperti biasanya. Dingin karena aku tinggal di wilayah pegunungan. Hembusan angin pagi pun menyapa wajahku dan membawaku pada kenangan bersama orang-orang terkasih. Sahabat-sahabat kecil pada masa sekolah dulu. Masa yang sangat indah dimana aku bisa begitu sombong dalam menapaki hari dan menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Maklum saja aku belum begitu paham dengan realita kehidupan pada saat itu. Sahabat-sahabatku pasti sudah tumbuh menjadi orang-orang hebat sekarang, atau setidaknya ku harap demikian. Untuk meredam rasa rinduku pada mereka, aku memproteksi diri dengan asumsi bahwa sebaiknya berhati-hati pada peristiwa yang teramat indah atau teramat pahit, karena bisa membuat diriku terjebak di dalamnya dan tidak melangkah maju. Bagaimana tidak, sahabat-sahabat lamaku sekarang pasti sudah bertumbuh dan memiliki kehidupan baru serta mengalami peristiwa-peristiwa baru yang jauh lebih menyenangkan, dan aku tentunya tidak sudi untuk selamanya terjerembab, mengingat-ingat kenangan di masa lalu dan berharap kenangan-kenangan di masa lalu tersebut akan muncul kembali. Hal itu teramat mustahil. Proteksi yang kutanamkan di benakku ternyata berhasil karena terkadang aku sudah tidak ingat lagi bagaimana rasanya rindu dan semua peristiwa kuhadapi dengan hambar saja. Aku tidak mau memaknainya dengan terlalu mendalam. Hanya saja sapaan angin di pagi itu menyadarkan diriku bahwa walau bagaimanapun perasaan rindu ini masih tetap ada, tersimpan rapih di dalam hatiku, meski susah payah coba kusingkirkan masih dapat muncul kapan pun.
Seperti hari-hari minggu pagi biasanya aku pergi berjalan-jalan untuk mengunjungi pasar kaget yang digelar di sepanjang jalan menuju asrama TNI-AU. Hanya saja kali ini aku pergi seorang diri, kakak yang biasanya jalan-jalan bersamaku sedang pergi keluar kota untuk beberapa hari. Dan karena hal tersebut pun aku yang harus bertanggung jawab dalam urusan belanja makanan dan masak. Rencananya di pasar kaget tersebut aku akan membeli kecipir. Di pasar tradisional jenis sayur ini agak sulit untuk ditemui, tetapi kalau di pasar kaget biasanya ada beberapa pedagang sayur yang menggelar lapak di pinggir jalan dan menjajakan kecipir diantara jenis-jenis sayur lainnya.
Karena merasa lapar dan dari rumah pun belum sempat sarapan, aku berniat untuk membeli bubur ayam di tempat yang biasa. Bubur ayam langgananku ini luar biasa laris, bagaimana tidak harganya cukup murah tetapi kualitasnya (kebersihan) cukup baik dan rasanya pun enak. Aku harus cepat-cepat sampai disana kalau tidak mau kehabisan. Sayang sekali saat tiba di tempat penjual bubur langgananku, semua kursi-kursi sudah terisi penuh. Aku pun berdiri disana celingak-celinguk hampir lima menit lamanya dan berharap cemas kalau-kalau ada pelanggan lain yang sudah selesai makan dan beranjak pergi. Tapi hal itu tidak juga terjadi, sempat terbersit untuk memesan saja dulu urusan tempat duduk dipikirkan nanti, tapi segera kuurungkan niatku itu setelah menyadari bahwa aku tidak memiliki cukup keberanian untuk duduk di lantai toko. Dengan perut yang mulai meronta-ronta, aku pun melangkah pergi. Kucoba menenangkan diri dengan berujar di dalam hati, "Beli buburnya nanti di pasar kaget aja, disana juga banyak yang jualan bubur ayam."
Setelah selesai membeli beberapa keperluan di pasar tradisional aku pun segera menuju pasar kaget. Tidak terlalu lama beberapa penjual sayur yang menjajakan kecipir segera kutemukan. Satu ikat kecipir dihargai Rp 1000, dan aku membeli tiga ikat pada saat itu. Semua bahan makanan sudah aku beli dan sekarang saatnya berburu bubur ayam.
Ternyata penjual-penjual bubur ayam lainnya pun laris diburu pembeli dan cerita lama kembali terulang yaitu tempat duduk yang jumlahnya terbatas sudah terisi penuh. Bagaimanapun aku tak putus arang dan terus mencari penjual bubur ayam lainnya. Dan akhirnya tibalah kedua kaki dan perut kosongku disertai rintihan caing-cacing di dalamnya pada penjual bubur ayam yang pembelinya duduk secara terpisah-pisah dengan jarak yang renggang. Dengan sedikit nada ketus (ini pasti karena dorongan perut yang lapar) aku meminta salah seorang pembeli untuk bergeser setelah memesan semangkuk bubur ayam. Ia pun langsung beringsut menjauh dan meninggalkan sepetak bangku hangat untuk kemudian kududuki.
Pada suapan yang pertama bubur ayam ini terasa cukup enak, suapan kedua biasa saja dan suapan-suapan seterusnya terasa hambar, aku sudah tidak bisa menikmatinya lagi, yang kurasakan hanyalah ritual menyambung hidup, menghilangkan rasa lapar atau meredam agar produksi asam lambung di perutku tidak berlebihan. Karena aku tidak memiliki teman untuk berbicara pada saat itu, sambil menghabiskan semangkuk bubur ayam mataku pun keluyuran mencari hiburan mengamati setiap sudut keramaian, melihat orang-orang yang sedang berjejalan, menghabiskan waktu liburan dengan berjalan-jalan di pasar kaget, sungguh merakyat dan murah-meriah.
Tak kusadari ternyata ada seorang bocah laki-laki, usianya sekitar anak sekolah dasar kelas 5, sedang mencuci mangkok-mangkok bekas bubur. Wajahnya lucu (lugu dan culun), lucu karena kepolosannya, lucu karena keikhlasannya dalam menjalani hidup yang keras, lucu karena kebaikan hatinya, lucu karena keriangannya, lucu karena bekas-bekas penderitaan hidup tercetak jelas di wajahnya, lucu dimana bocah-bocah lain bermain-main dengan teman-teman seusianya setelah merengek beberepa perak uang jajan pada orang tuanya, sedangkan bocah ini bekerja sambil sesekali bersenda gurau dengan beberapa kenalan sesama pedagang yang menggelar lapak di dekatnya.
Entah mengapa tiba-tiba ada ruang yang menganga di dalam dadaku dan tatapanku pun berubah menjadi nanar. Bukan maksudku untuk meragukan kekuasaan Illahi ketika Ia menghendaki sesuatu terjadi maka terjadilah, tetapi melihat kondisi normatif di negaraku ini, bocah lugu yang mungkin menyimpan potensi besar yang belum sempat tergali ini sedang berada pada kondisi pelik yang sangat tidak menguntungkan. Bayangkan saja jika ia harus bersekolah sambil mencari uang, hal ini memang bukan pemandangan baru, ada ribuan anak di Indonesia tercinta ini yang juga mengalami nasib serupa. Anak-anak dengan kondisi tersebut sebagian bersekolah dengan sungguh-sungguh dan sebagian lagi hanya sekedarnya. Bagaimana tidak, bekerja dengan menjadi penjual kantong plastik di pasar-pasar, pedagang asongan, atau mengamen akan lebih menyenangkan bagi mereka, karena mereka bisa mendapatkan sedikit uang bahkan membantu orang tua. Tak jarang banyak diantaranya yang kemudian memutuskan untuk berhenti sekolah saja sehingga urusan mencari uang tidak perlu lagi terganngu dengan kegiatan belajar-mengajar di kelas.
Tetapi yang akan jauh lebih menderita justeru adalah anak-anak yang bersungguh-sungguh untuk bersekolah. Meskipun biaya untuk sekolah dasar sudah digratiskan, bagaimanapun mereka masih harus membeli tas, sepatu, baju agar tampak layak dan bisa diterima teman-temannya di sekolah. Maklumlah dalam balutan budaya komunal dimana orang-orang biasa hidup dalam kelompok, berkumpul dengan sesama atau sejenisnya serta saling mencampuri urusan satu sama lain tanpa memberi solusi yang jelas, anak ini tidak akan terlalu mudah dalam memperoleh teman di sekolahnya. Karena bagaimanapun sudut pandang yang masih berlaku di negara yang katanya sedang berkembang ini yaitu nilai seseorang ditentukan dengan apa yang ia punya, penampilannya, keturunannya, pekerjaan orang tuanya, kendaraannya, rumahnya dan hal-hal tetek-bengek, remeh-temeh lainnya yang tidak mengijinkan seseorang berkembang berdasarkan kualitas pribadi dan pemikirannya.
Permasalahan akan bertambah pelik ketika anak-anak dengan kondisi ekonomi sangat memprihatinkan melanjutkan studinya ke Sekolah Menengah Pertama. Bayaran sekolah sudah pasti naik, semakin baik sekolahnya semakin tinggi pula bayarannya. Sebaik apapun prestasi akademik anak-anak tersebut mereka tetap akan terpinggirkan mengingat hal yang paling utama lagi-lagi materi, uang. Meski belum mencapai klimaks, beranjak ke usia pelajar Sekolah Menengah Atas permasalahan pun semakin rumit. Oh ya…..sempat terlewat olehku bahwa ada sesuatu yang disebut beasiswa, meski jumlahnya tidak terlalu signifikan tapi bisa digunakan untuk membantu melunasi biaya sekolah. Tapi sekali lagi kalau itupun tidak disalahfungsikan oleh aparat sekolah. Teman sekelasku waktu SMA dulu yang selalu mendapat peringkat satu sempat mendapat beasiswa. Uang beasiswa atas prestasinya di kelas satu (baca kelas X) diterimanya ketika ia sudah berada di kelas dua (XI), uang beasiswa di kelas dua ia terima di kelas tiga (XII), dan uang beasiswa kelas tiga tidak ia terima karena ia sudah terlanjur lulus. Untungnya orang tua temanku yang berprestasi ini cukup kritis, mereka mendatangi almamater anaknya dan coba mengkonfirmasi soal uang beasiswa tersebut. Setelah adu argumen dan melalui berdebatan yang cukup sengit, orang tua temanku berhasil memperoleh uang beasiswa yang memang sudah menjadi hak anak mereka. Usut punya usut uang beasiswa tersebut nyaris akan masuk ke kantong kepala sekolah karena beberapa tahun setelahnya aku mendengar kabar bahwa kepala sekolah SMA-ku yang dulu sudah dicopot dan diganti karena terbukti korup.
Secara kebetulan aku mendengar keluh kesah salah seorang kerabatku yang bekerja sebagai guru di salah satu SMA negeri. Ia mendapat saran dari guru yang lebih senior untuk tidak perlu bersusah payah memberi pemantapan pada anak-anak yang kurang mampu (tidak peduli apakah prestasi akademik mereka membanggakan atau tidak) toh mereka pun tidak akan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, jadi fokus saja pada anak-anak orang kaya. Sangat realistis memang atau sekalian saja buat slogan pendidikan berbunyi, "Kalau bukan anak orang kaya gak usah mimpi pingin kuliah." Setelah liar berpikir terlalu jauh, tatapanku kembali pada bocah laki-laki yang sekarang ini sedang sibuk menukar uang, mondar-mandir kesana kemari bertanya pada penjual warung dan pedagang-pedagang lainnya.
Dengan pribadi hebatnya itu, kalau saja di hari libur ini ia sedang berada di sebuah ruangan kelas les piano, mungkin ia akan belajar dengan tekun dan entah suatu hari nanti bisa saja menjadi pianis kebanggaan negeri di tingkat dunia. Andai ia memiliki sedikit kesempatan untuk lebih leluasa mengakses pendidikan, tidak menutup kemungkinan kalau ia adalah salah satu kandidat peraih nobel dalam bidang sastra, fisika, ekonomi dan seterusnya.
Hatiku pun masih gundah ketika aku hendak beranjak dari tempat penjual bubur ayam dan melangkah pulang. Sekali lagi aku menoleh pada wajah bocah laki-laki kecil itu, disana aku melihat nilai keindahan layaknya sebuah karya seni yang agung.

No comments:
Post a Comment