Alih bahasa dari buku yang berjudul "Critical Theory Today" karya Lois Tyson
Mengapa kita harus bersuah-payah mempelajari dan memahami teori kritik sastra? Apakah manfaat yang akan kita peroleh sesuai dengan upaya yang telah kita kerahkan? Akankah konsep-konsep abstrak yang kita pelajari (ketika kita berhasil memahami salah satu dari konsep tersebut) mengintervensi penafsiran alami dan personal kita terhadap karya sastra yang sedang kita apresiasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benak mahasiswa-mahasiswa semester awal pada khususnya dan penikmat sastra pada umumnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pun secara tidak sadar memicu keengganan masyarakat sastra untuk mempelajari teori kritik sastra dikarenakan dua alasan mendasar yaitu: (1) takut gagal dalam memahaminya dan (2) takut akan berkurangnya kenikmatan, ketertarikan dan koneksi magis dengan karya sastra yang merupakan alasan utama dalam membaca/mengapresiasi karya sastra. Kedua asumsi tersebut bukannya tidak beralasan.
Terlepas bahwa terdapat nama-nama besar di balik teori-teori krikik sastra sehingga menimbulkan ketertarikan sendiri untuk mempelajarinya, pada umumnya dalam teori kritik sastra selalu ditemukan istilah-istilah teknis dan konsep-konsep teoritis yang sulit dipahami oleh masyarakat awam atau masyarakat yang baru belajar untuk megenal sastra. Selain itu, teori-teori tersebut tampaknya tidak memiliki korelasi apapun dengan kecintaan kita terhadap karya sastra, sehingga bisa disimpulkan bahwa tujuan dari teori-teori kritik sastra yaitu untuk membawa kita pada suatu dunia intelektual abstrak, dimana ketika kita menggunakan jargon-jargon teoritis yang dikutip dari teori kritik sastra tersebut, kita dapat membuat lawan bicara kita terkesan (dengan harapan bahwa mereka belum pernah mendengar jargon tersebut sebelumnya). Dalam kata lain, teori kritik sastra telah menjadi komoditas ekslusif dan mahal sehingga sulit untuk diperoleh.
Kecemasan lain dalam mempelajari teori kritik sastra disebabkan tiada lain oleh intensnya perjumpaan kita dengan jargon teoritis atau lebih tepatnya dengan orang-orang yang menggunakan jargon teoritis untuk meningkatkan citra intelektual mereka. Salah satu contohnya yaitu "the death of the author," pengarang sudah mati, kita mungkin sering mendengar orang-orang berbicara dengan menggunakan frase tersebut tapi jarang ada yang menjelaskan langsung akan makna sebenarnya, sehingga kita sering merasa terasing dan tersesat dalam percakapan yang sedang berlangsung. Karena makna frase tersebut tidak muncul dalam rangkaian kata-perkata maka bisa kita asusmsikan bahwa frase tersebut pasti memuat suatu konsep yang kompleks. Terlebih lagi mereka yang menggunakan istilah tersebut bertingkah seolah-olah mereka adalah bagian dari masyarakat yang melek sastra dan menganggap orang lain pun akan serta-merta memahami jargon-jargon yang mereka lemparkan ke forum, kita pun merasa semakin bodoh karena tidak mengetahui istilah-istilah tersebut dan takut untuk bertanya karena kita mau tidak mau akan membongkar ketidaktahuan kita. Faktanya "the death of the author" merupakan konsep yang sederhana, terutama ketika orang-orang yang menggunakan istilah tersebut mau menjelaskan dengan sedikit lebih gamblang. Konsep "the death of the author" semata-mata mengacu pada perubahan perilaku kita sebagai penikmat sastra terhadap peran pengarang/penulis pada saat kita menafsirkan karya-karya sastra.
Pada awal-awal dekade di abad ke-20, para siswa yang mengambil jurusan sastra diajari bahwa perhatian utama dalam mengapresiasi suatu karya sastra adalah menganalisis pengarangnya: tugas kita adalah untuk meneliti kehidupan pengarang untuk mengungkap apa yang ia maksud dalam karyanya yang mencakup tema dan nilai moral yang ingin disampaikan, proses ini biasa dikenal dengan authorial intention. Dalam beberapa tahun kebelakang hingga sekarang, titik berat apresiasi sastra telah berpindah, banyak kritikus sastra kontemporer yang menyatakan bahwa pengarang tidak lagi menjadi objek penting dalam proses analisis sastra. Dalam beberapa pendekatan modern, fokus lebih ditekankan pada pembaca; struktur ideologis, retorika dan estetika suatu karya; atau budaya yang melingkupi pembuatan suatu karya, dan pada umumnya tanpa melakukan rujukan apapun terhadap pengarang karya tersebut. Singkatnya pengarang telah mati adalah istilah yang digunakan untuk menyampaikan suatu ide yang sederhana, sebagaimana dalam disiplin-disiplin akademis pada umumnya, ide-ide sederhana biasanya ditampilkan dengan lebih rumit dan menjadikannya lebih sulit untuk dipahami.
Lalu apa keuntungan nyata dari memahami teori kritik sastra? Teori kritik sastra dapat membantu kita dalam mempelajari dan memandang diri kita sendiri dan dunia dengan sudut pandang yang berbeda dan lebih bermakna; yang juga akan mempengaruhi pendapat-pendapat kita, cara kita bersikap, bagaimana kita bereaksi ketika berhadapan dengan orang yang memiliki pandangan yang berbeda baik dalam menanggapi permasalahan-permasalahan sosial, agama dan politik serta bagaimana kita mengenali dan mengatasi dorongan-dorongan pribadi, rasa takut dan keinginan-keinginan dalam diri kita sendiri. Dan apabila kita meyakini bahwa karya tidak hanya terbatas pada bentuk tulisan tetapi juga mencakup film, musik, bentuk-bentuk seni lainnya, ilmu pengetahuan, teknologi dan arsitektur yang dimana karya-karya tersebut lahir menyusul pengalaman hidup manusia dan merefleksikan keinginan, konflik dan potensi-potensi yang dimiliki manusia, maka kita dapat belajar untuk menafsirkan bentuk-bentuk karya tersebut dalam rangka memahami sesuatu yang penting dalam diri kita sebagai mahluk hidup. Teori kritik sastra akan menjadi perangkat yang berguna untuk pencapaian usaha dan pencarian yang sedang kita upayakan, perangkat yang tidak hanya dapat menunjukan kita tentang bagaimana cara memandang diri kita sendiri dan dunia melalui lensa yang berbeda tetapi juga memperkuat kemampuan kita untuk berfikir secara logis, kreatif dan lebih mendalam.
Pembahasan tentang masing-masing teori/pendekatannya menyusul yaa........ Hope I'll see you soon n_n.
Referensi:
Tyson, Lois. Critical Theory Today, A User-Friendly Guide. New York: Routledge, 2002
No comments:
Post a Comment