Friday, December 23, 2011

HATI-HATI PENIPUAN DENGAN SKENARIO SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENGALAMI KECELAKAAN



 
Tanpa bermaksud untuk mengajak teman-teman menjadi kurang bersemangat tapi dengan berat hati harus diakui bahwa menjalani kehidupan di negeri ini tidaklah mudah. Yang ingin saya sampaikan sekarang ini tentu bukanlah hal baru, kebanyakan dari masyarakat kita dalam kehidupan sehari-harinya memang sudah terbiasa dibombardir dengan segala bentuk penipuan, mulai dari Mama minta pulsa, hadiah mobil, tv, atau sejumlah uang dimana untuk mengambil hadiah tersebut, justru kita yang diminta mengirimkan sejumlah pembayaran terlebih dahulu sebagai uang muka untuk menebus hadiah. Alih-alih mendapatkan hadiah, malah uang di tabungan kita yang terkuras, atau ketika kita berniat untuk menjual rumah dan pasang ikan di internet, keesokannya banyak sekali telpon yang masuk dari orang-orang yang mengaku berminat membeli rumah, tapi pada kenyataannya semua hanya bohong belaka, justru yang menjadi incaran adalah uang yang mengendap di rekening tabungan kita.

 
Sebagai seorang yang memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu itu harus diperoleh dengan kerja keras, maka bentuk-bentuk penipuan berupa iming-iming mendapatkan hadiah tidak pernah saya tanggapi. Bagaimanapun hal ini jangan sampai membuat kita lengah karena ternyata penipu terus berinovasi dan dengan kejamnya menyerang sisi psikologis kita yang paling dasar atau naluri kemanusiaan kita. Sangatlah wajar ketika orang tua sangat menyangi anaknya, kakak kepada adiknya, atau mungkin anak kepada orang tua, atau peduli pada anggota keluarga lainnya, dst. Tentunya kita akan sangat panik ketika mendapat kabar kalau salah satu anggota keluarga kita mendapat kecelakaan dan dalam kondisi kritis, tapi dari sinilah aksi penipuan itu bermulai.


 

Karena sudah selesai UAS dan tinggal menunggu dibagi raport, dalam beberapa hari kebelakang adik saya tidak pergi ke sekolah. Baru pada hari Selasa tanggal 20 Desember kemarin dia pergi ke sekolah untuk sekedar mengecek apakah ada nilai ujian yang kurang memuaskan dan harus mengikuti remedial. Sekitar pukul 11 pagi, telpon di rumah kami berdering, dan yang mengangkat pada saat itu adalah ayah saya. Orang di saluran telepon yang suaranya MIRIP
ibu guru (dengan nomor 085696156689) dan MENGAKU dari pihak sekolah mengabarkan kepada ayah saya kalau adik saya mengalami kecelakaan dan sekarang sudah dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin/RSHS dan kondisinya sangat kritis, untuk lebih lanjutnya silahkan hubungi nomor 085326355528, yang merupakan nomor dari dokter yang menangani adik saya.

 
Dengan perasaan yang panik, sedih, kaget dan lain sebagainya, ayah saya mendatangi kamar saya sambil membawa telpon genggamnya, dan saya pada saat itu kebetulan sedang berkutat di depan komputer. Ayah saya bilang kalau adik saya mengalami kecelakaan dan meminta tolong saya untuk menghubungi nomor yang KATANYA dokter yang sedang menangani adik saya (ayah saya tidak memakai kaca mata pada saat itu). Segera saya melakukan apa yang ayah saya minta, setelah terdengar nada terhubung saya serahkan kembali telepon genggam ke ayah saya, kemudian saya pergi ke kamar mandi sebentar. Dokter gadungan itu mengaku bernama Indra. Terdengar ayah saya menyebut kalimat istigfar berkali-kali, dalam hati saya berkata, "Kenapa adik saya harus pergi ke sekolah hari ini, kemarin dia gak kemana-mana dan baik-baik aja, tadi pagi pun dia masih baik-baik aja." Sekilas terbayang kalau adik saya sedang terkapar di rumah sakit dengan kondisi mengenaskan, kepalanya bocor dan bersimbah darah. Belum lama ini, beberapa teman adik saya yang pun mengalami kecelakaan dan bahkan dua diantaranya sampai meninggal, jalan yang dilalui adik saya menuju kesekolah memang terbilang cukup rawan, banyak terjadi kecelakaan, ditambah lagi adik saya kalau bawa motor memang ugal-ugalan.

 
Dokter palsu itu menerangkan pada ayah saya kalau kondisi adik saya sangat kritis dan secara teoritis kemungkinan dia hanya akan bertahan hidup dalam kurun waktu tidak lebih dari 15 menit, salah satu organ di bagian kepalanya ada yang putus, kemungkinan dia akan tertolong kalau menggunakan alat bantu. Karena alat bantu tersebut cukup mahal dan pihak rumah sakit tidak mungkin menanggung dan orang tua pun belum ada di tempat, maka kita harus mengirimkan uangnya dulu pada pihak penyuplai alat-alat medis dan obat-obatan. Dengan asumsi bahwa adik saya memang benar-benar dalam kondisi kritis dan terlambat sedikit saja taruhannya nyawa, ayah saya segera menyanggupi membayar biaya alat bantu tersebut, kemudian dokter palsu yang mengaku bernama Indra
tersebut menginstruksikan ayah saya untuk menelpon nomor 081298499777, yang DIKATAKANYA pihak Kimia Farma dan SEOLAH-OLAH bernama Prof. Dedi Kuswandi.

 
Orang yang MENGAKU-NGAKU dari pihak Kimia Farma segera memberikan nomor rekening, dan pada saat itu saya berkesempatan mengirimkan uang paling cepat melalui e-banking, maka uangnya segera saya kirimkan. Setelah ada laporan sukses terkirim ayah segera mengabari kepada si PENIPU (yang pada saat itu belum kami sadari) lalu bergegas untuk siap-siap berangkat ke rumah sakit. Kakak tertua saya yang kemudian bergabung pun sangat shock dan mengabari keluarga terdekat megenai bencana REKAAN yang terjadi pada adik saya dan turut bergegas untuk menemani ayah saya ke rumah sakit.

 
Situasi pada saat itu sangat kalut, carut-marut dan kami dibuat kalang kabut dengan telpon yang sebentar-bentar kembali berdering yang menyatakan kalau kondisi adik saya semakin kritis dan menanyakan keberadaan orang tua dan lagi-lagi dinyatakan kalau uang yang ditransfer belum diterima, dan setelah itu ada obat yang juga harus ditebus dan juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ketika kami bernada agak keras untuk meyakinkan uang sudah dikirim maka para PENIPU itu akan membalas kami dengan nada yang lebih keras dan dengan sadisnya mereka bilang "INI ANAKNYA MAU DITOLONG ATAU ENGGAK???!! KONDISINYA SUDAH SEMAKIN KRITIS, APA DIBIARKAN MATI SAJA??!!." Mereka kemudian memberikan rekening di bank lain dengan alasan mungkin sedang ada gangguan dan nanti kalau orang tua saya sudah sampai rumah sakit dangan membawa bukti transfer, uangnya bisa dikembalikan. Kakak saya sangat marah dan sempat membentak si penipu, "KENAPA DARI TADI UANG-UANG TERUS??!!! COBA NYAWA ADIK SAYA DITOLONG DULU, KALAU UANG PASTI KAMI BAYAR."

 
Kami tidak langsung melakukan transfer yang kedua karena kami yakin kalau uang itu memang sudah terkirim, sebelum ayah dan kakak saya berangkat ke rumah sakit, kakak saya bilang, "Coba hubungi anaknya." Saya yang pada saat itu meminjam hp kakak saya menghubungi adik saya, tidak lama saya mendengar suara,

 
'Halo."
Dengan perasaan lega dan heran saya menjawab, "Ini kamu lagi dimana?"
"Di sekolah."
"Kamu gak apa-apa?"
"Enggak, kenapa gitu?"
"Enggak , tadi ada yang telpon trus bilang kamu kecelakaan."
"Wah, yang nipu kali?"
"Ya udah gapapa, kamu hati-hati ya pulang."
"Iya."

 
Telepon ditutup.

 
Segera kami sadar kalau kami sudah ditipu. Emosi kami yang sedari tadi campur-aduk mendadak hilang dan kamipun merasa lemas. Tindakan pertama yang kemudian kami ambil yaitu langsung mendatangi pihak bank, meminta transfer digagalkan (ini sangat sulit karena komplotan penipu pasti sudah ada yang menunggu di ATM, ketika uang masuk dalam hitungan detik langsung mereka tarik) atau rekening tujuan diblokir agar tidak ada korban selanjutnya, atau setidaknya si penipu harus bersusah-payah membuat rekening baru untuk bisa melaksanakan operasi kotor selanjutnya. Ternyata permintaan ini tidak mudah dipenuhi pihak bank. Untuk memenuhi permintaan blokir kami harus membawa laporan yang ditandatangani KAPOLRES atau setidaknya pejabat dengan jabatan AKBP (peraturan yang ditetapkan BI) dan tidak ada jaminan uang bisa dikembalikan, tapi untuk sementara nomor rekening yang kami laporkan diblokir sementara selama 2 hari dan kalau kami tidak kembali dengan membawa surat dari polisi maka rekening akan diaktifkan kembali.

 
Sedari awal kami sadar kalau kami telah tertipu, kami sudah ikhlas bahwa uang yang diperoleh dengan susah payah itu raib begitu saja direnggut para penipu, tapi kami tidak mau tinggal diam, kami ingin melakukan sesuatu agar aksi penipuan ini tidak terus berlanjut. Keesokan harinya ayah saya pergi ke polres untuk melapor. Prosesnya sangat lama dan sempat dioper kesana kemari dan tentunya harus mengeluarkan sejumlah uang. Tampaknya himbauan BI hanya tersosialisasi pada bank-bank tetapi tidak pada pihak kepolisian. Sudah menjadi rahasia umum, birokrasi yang sangat rumit dan pada akhirnya tetap yang dirugikan adalah masyarakat.

 
Kamipun kembali ke bank dengan membawa Surat Keterangan Tanda Bukti Lapor dari polres. Ternyata upaya kami kembali sia-sia karena surat keterangan yang kami bawa tidak ditandatangani KAPOLRES. Untuk mendapatkan tanda-tangan KAPOLRES tentu bukanlah hal sepele, membuat BAP saja sudah memakan waktu hampir sehari penuh. Kami faham, bagaimanapun pegawai bank hanya menjalankan prosedur yang kebijakan yang berlaku. Rekening sialan itu kembali aktif dan komplotan penipu dapat melanjutkan aksinya dengan santai.

 
Kalau dongkol, marah dan menyalahkan orang dan berbagai pihak tidak ada habisnya, maka saya hanya mau melakukan sebisa mungkin yang bisa saya lakukan yaitu dengan menulis dan berharap ada orang yang baca dan menyebarkan informasi ini seluas-luasnya agar aksi-aksi penipuan ini dan sejenisnya tidak terjadi lagi, atau setidaknya tidak berjalan terlalu mulus. Berikut ini adalah nomor-nomor rekening yang diberikan
SI PENIPU:

 
BCA, No Rekening: 2040073828, Atas Nama: Hendi Putra (Belakangan kami ketahui kalau rekening ini dibuka di salah satu kantor cabang di Jakarta)
BRI, No Rekening: 019301041128505, Atas Nama: Luki Firmansyah

 
Saya minta maaf kalau tulisan saya terlalu panjang, saya hanya berusaha menyampaikan peristiwa ini secara kronologis dan selengkap mungkin. Saya yakin kalau komplotan penipu itu bekerja sama dengan orang yang tinggal di sekitar rumah atau memang mereka berpindah-pindah, karena mereka tahu persis kapan adik saya keluar rumah. Hati-hati kalau ada orang yang bertanya-tanya atau meminta keterangan mengenai tetangga di dekat rumah. Kalau salah satu dari kalian tiba-tiba mendapatkan telpon yang serupa, jangan langsung panik, tolong dicek langsung dengan menelpon anggota keluarga yang dikabarkan mengalami kecelakaan, kalau memungkinkan, misalnya lokasi sekolah tidak terlalu jauh dari rumah, langsung saja disusul ke sekolah untuk melihat kondisi saudara kita. Mungkin bagi sebagian kalian hal ini bukan hal baru, tapi mohon disebarluaskan, atau kalau ada bentuk penipuan baru lagi, sebaiknya diinformasikan juga kepada teman, keluarga, dll. Saya berharap teman-teman semua beserta keluarga selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, amin.

 

 

 

 

No comments: