Thursday, March 5, 2009

Dekonstruksi Terhadap Makna Kata ‘War’:Sebuah Analisis Sastra dalam Cerpen “My Oedipus Complex”


    Ketika nilai fundamental dari sebuah pesan yang kita sampaikan baik secara lisan maupun tulisan tidaklah terhenti pada bahasa atau kata-kata yang kita ucapkan atau tulis, tetapi lebih kepada konsep dasar dibalik kata-kata tersebut, sehingga kata hanyalah sebagai simbol dari konsep atau ide-ide abstrak yang ada di benak kita dan membuatnya seakan-akan nyata, "The sign that make up
language are not abstractions but real objects." (Saussure dalam Schleifer:353) Adapun definisi dari bahasa yaitu, "Language is a system of arbitrary vowel symbols which permits all people in a given culture, or another people who have learned the system of that culture, to communicate or interact." (Finochiaro in Alwasilah:82)

    Sedangkan pendapat Ferdinand De Saussure mengenai kata adalah sebagai berikut,

I Propose to retain the word (signe) to designate the whole and to replace concept and sound-image respectively by signified (signifie) and signifier (signifiant); the last two terms have the advantage of indicating the opposition that separates them from each other and from the whole of which they are parts.(Saussure dalam Schleifer:251)



Dari paparan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat dua elemen di dalam kata, elemen yang pertama adalah signifier (simbol/lambang) dan yang kedua signified (konsep), "Saussure explains the arbitrary nature of the linguistic sign and establishes the duality of its nature as signified (concept) and signifier
(sound image). (Saussure dalam Schleifer:243) Apabila signifiernya adalah rumah, maka kata tersebut merupakan simbol konsep sebuah bangunan yang terdiri dari tembok, atap, pintu, jendela, ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai tempat tinggal, berteduh, berlindung, dan berkumpul sebuah keluarga. Tetapi bila mengacu pada definisi bahasa, bukankah bahasa adalah simbol yang manasuka, maka sebuah kata dapat menyimbolkan konsep sangat beragam dan berbeda pada tiap-tiap orang, "The
bond between the signifier and the signified is arbitrary." (Saussure dalam Sxhleifer:251)

Dalam prakteknya, suatu kata hanya akan dipakai apabila diakui fungsinya sebagai simbol ketika dapat memaknai konsep-konsep yang telah disepakati masyarakat pengguna kata/bahasa tersebut secara umum, "In fact, every means of expression used in society is based, in principle, on collective behavior or what-amounts to the same thing-on convention". (Saussure dalam Schleifer:252) Berdasarkan kesepakatan itulah masyarakat menggunakan simbol/bahasa tersebut sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi satu sama lain dan menyampaikan baik pesan maupun ide-ide mereka, maka dari itu salah seorang linguis asal Amerika berpendapat, "Language is convention, and the nature of the sign that is
agreed upon does not matter." (Whitney dalam Schleifer:245)

    Dengan bercermin pada teori strukturalisme Ferdinand De Saussure, signified dari signifier 'war' adalah permusuhan, pertikaian, pembunuhan, pembantaian, kekejaman, kerusakkan, kesengsaraan dan seterusnya. Maka dari itu, kata 'war' merepresentasikan hal-hal yang ditakuti, tidak disukai dan bahkan dibenci oleh banyak orang. Lalu mengapa tidak demikian bagi narrator 'I' yang bernama Larry di dalam cerpen 'My Oedipus Complex',



"But Mummy couldn't God make another war, if He liked?"

"He wouldn't like to, dear. It's not God who makes wars, but bad people.

"Oh!" I said.

I was disappointed about that. (O'Connor dalam Mizener:140)



Larry dalam cerpen tersebut adalah seorang anak laki-laki berumur lima tahun yang berharap kepada Tuhan agar menciptakan kembali 'war'. Kata 'war' di dalam cerpen "My Oedipus Complex" yang diucapkan Larry ternyata memiliki makna yang berbeda, yaitu merepresentasikan sebuah harapan atas hal-hal yang menyenangkan dan menggembirakan. Mengapa demikian, dan apa alasannya?

Untuk menjawab permasalahan tersebut mari kita bandingkan dengan karya lain, sebuah puisi karya sastrawan Amerika yang beraliran naturalis Stephen Crane yang berjudul "War Is Kind",



Do not weep, maiden, for war is kind.

Because your lover threw wild hands toward the sky

And the affrighted steed ran on alone,

Do not weep.

War is kind.



Hoarse, booming drums of the regiment,

Little souls who thirst for fight,

These men were born to drill and die.

The unexplained glory flies above them,

Great is the battle-god, great, and his kingdom

A field where a thousand corpses lie.1

________________________________________

1"War IS Kind" From Stephen Crane: An Onimbus, edited by Robert Wooster Stalman. Reprinted by permission of Alfred A. Knoft, Inc.

Secara sepintas judul puisi dialogis antara anak dan ibunya tersebut memiliki kesamaan dengan makna kata 'war' dalam cerpen "My Oedipus
Complex", yaitu

pernyataan bahwa 'war' adalah baik, begitu pula dengan bait pertama puisi tersebut. Tetapi ketika kita memasuki baris terakhir, di bait kedua yang berisi 'sebuah lapangan di mana ribuan mayat terbaring', maka kata 'war' dalam puisi tersebut tetap erat dengan makna kematian. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap terdapat ketidakcocokkan antara judul dengan isi puisinya, yang mengingatkan kita pada sebuah gaya bahasa, yaitu ironi. Ironi adalah ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan/diungkapkan dengan apa yang dimaksudkan.

Ketika "War Is Kind" merupakan gaya bahasa ironi dan makna kata 'war' pada puisi tersebut tidak keluar dari struktur signifier dan signified, berarti tidak ada intertekstualitas antara makna kata 'war' pada cerpen "My Oedipus
Complex" dengan puisi "War is Kind". Karena bagaimanapun apabila kita menempatkan diri kita pada posisis pembaca dan bersandar pada teori psikoanalisis Jacques Lacan, "We only to understand the mirror stage as an identification, in the full sense that analysis gives to the term: namely, the transformation that takes place in the subject." (Lacan dalam Schleifer:382)

    Yang berarti, ketika kita sedang membaca cerpen "My Oedipus complex", kita menjadikan Larry sebagai refleksi dari diri kita, ketika kita sedang bercermin, seolah-olah diri kita berada pada posisinya, dan kita pun akan memiliki persepsi bahwa dengan adanya 'war', hidup kita akan lebih baik dan menyenangkan . Kita tidak mengharapkan 'war' terjadi dengan maksud untuk mengutuknya, berarti harapan Larry agar 'war' kembali terjadi pada cerpen "My Oedipus Complex " bukanlah gaya bahasa ironi.

    Sebelum menjawab permasalahan perubahan makna kata 'war' di dalam cerpen "My Oedipus Complex" dan menemukan pendekatan teori yang tepat, secara umum tujuan teori sastra sendiri adalah, "The aim of understanding is to
find a way to present master the context of whatever is to be understood.
"Meaning," Culler writes, "is context-bound." (Culler dalam Schleifer:297)

Ketika makna dari suatu kata sangat berkaitan dengan konteks, berarti selain merepresentasikan konsep-konsep yang telah disepakati secara umum, arti suatu kata pun tergantung pada konteks siapa yang berbicara atau dengan kata lain disebut konteks subjektif. Sedangkan pendapat lain mengenai definisi dari teori sastra yaitu, "The fundamental sense of [deconstructive} 'critique' [is] discriminating [and] testing out." (Miller dalam Schleifer:297)

Keadaan dimana suatu kata memiliki makna baru, yang disebabkan karena adanya konteks subjektif, adalah pembahasan yang tampaknya akan terjawab melalui teori dekonstruksi. Hal ini didukung oleh pendapat As J. Hillis Miller, "That is, deconstruction critique examines and test the assumption supporting intellectual insight to interrogate
'self-evident' truths on which they are based." (Miller dalam Schleifer:297)

    Berarti suatu kata yang secara struktur terdiri dari signifier (simbol) yang melambangkan konsep-konsep secara umum, dalam kata lain signified, pada suatu saat bisa saja mengalami dekonstruksi makna ketika si penutur kata tersebut memiliki paradigma baru yang tidak umum berdasarkan alasan pribadi yang ia peroleh dari pengalaman hidupnya, " that [this] center, which is by definition
unique, constituted that very thing within a structure which govern the structure ,
while escaping structurality," (Derrida dalam Schleifer:289) dan dalam hal ini terjadi pada Larry.

    Larry memiliki alasannya sendiri untuk berharap agar 'war' kembali terjadi, alasanya yaitu karena ia sudah terbiasa tinggal berdua bersama ibunya ketika ayahnya pergi meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama untuk ikut serta dalam perang, ayah Larry hanya sesekali pulang ke rumah dan itu pun tidak untuk menetap lama, sehingga Larry tidak terlalu mengenal sosok ayahnya dan menganggap ayahnya seolah-olah hanyalah orang asing, dan ketika ayah Larry tidak berada di rumah, maka otomatis perhatian ibunya hanya tercurah bagi Larry seorang.

    Ketika perang usai dan ayah kembali ke rumah, perhatian ibu pun terbagi, yaitu kepada ayah dan Larry. Larry tidak menyukai keadaan tersebut, dan satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya agar ayahnya tidak tinggal bersama ia dan ibunya apabila perang kembali terjadi.

    Pada dasarnya, ada banyak konsep umum yang secara struktur telah terwakili oleh satu kata, tetapi dengan adanya teori dekonstruksi yang melibatkan konteks subjektif dalam memaknai kata itu sendiri, maka semakin beragamlah konsep yang bisa disimbolkan oleh suatu kata, dari konsep yang paling umum hingga khusus, yang mungkin maknanaya hanya bisa terjamah oleh penuturnya sendiri.



Referensi :

Alwasilah, A. Chaedar, Linguistik Suatu Pengantar, (Bandung: Angkasa, 1993)

Mizener, Arthur (Ed), Modern Short Stories: The Use of Imagination, (New York:

    W.W. Norton Comp, 1967)

Schleifer , Ronald and Robert Con Davis , Contemporary Literary Criticism:

Literary and Cultural Studies, (New York & London: Longman, 1984)

2 comments:

delavega said...

wonderfull

Anonymous said...

salam kenal, jika ada kesempatan kunjungi blog saya si bujang lapuk thx..