Beberapa kenangan buruk di masa lalu seperti cemoohan, hinaan, ketidakpedulian membuatku memproteksi diri dengan sifat keras sehingga semua perlakuan buruk tersebut tidak lagi terasa menyakitkan. Sebagian diriku bersyukur karena dengan tumbuh dalam situasi yang tidak terlalu bersahabat telah menjadikan hidupku lebih mandiri dan berprinsip. Tetapi seharusnya aku tidak berdiam dalam kenyamanan sifat keras yang membuat diriku tetap kebas akan rasa sakit karena tak ada yang tetap ada, di mana dan sebagaimana telah adanya. Kekacauan yang lahir dari reaksi-reaksi kompleks yang tak berkesudahan suatu saat bisa saja terurai dan mereda, pergantian dan kombinasi terus bergulir dalam kehidupan. Tidak selamanya aku berada dalam situasi cemoohan, hinaan dan ketidakpedulian. Ada saat dimana roda berputar dan keadaan sepertinya lebih baik. Apabila aku tetap bersikukuh pada sifat kerasku maka aku akan menafikan keindahan yang ada dalam hidupku pada saat itu, tidak menghargai bahwa ada orang-orang yang begitu peduli sehingga aku tak perlu berjuang mati-matian seorang diri dalam mencapai setitik asa. Harusnya aku bisa lebih sadar bahwa telah banyak orang yang kulukai karena aku menampik kebaikan yang mereka tawarkan. Andai saja aku bisa lebih memaknai konsepsi filsafat Yunani kuno yang dirumuskan Heraclitus: segala-sesuatu itu ada dan tiada, karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan melenyap.
Waktu tak kan pernah berbalik, tak peduli ia bergerak dengan merangkak, berjalan atau berlari. Tapi ada satu yang tak pernah berubah, aku senang mendengar suara riuh dedaunan pada angin pergantian musim. Meski langkahku tak berbekas, meski keberadaanku seperti tiada, dan kadangkala kulihat langit senja yang tak jingga, tapi aku masih disini, setia menanti senyum mentari di pagi hari, dimana harapan seharusnya tak pernah mati.
Saturday, December 12, 2009
Tak Ada yang Tetap Ada
Beberapa kenangan buruk di masa lalu seperti cemoohan, hinaan, ketidakpedulian membuatku memproteksi diri dengan sifat keras sehingga semua perlakuan buruk tersebut tidak lagi terasa menyakitkan. Sebagian diriku bersyukur karena dengan tumbuh dalam situasi yang tidak terlalu bersahabat telah menjadikan hidupku lebih mandiri dan berprinsip. Tetapi seharusnya aku tidak berdiam dalam kenyamanan sifat keras yang membuat diriku tetap kebas akan rasa sakit karena tak ada yang tetap ada, di mana dan sebagaimana telah adanya. Kekacauan yang lahir dari reaksi-reaksi kompleks yang tak berkesudahan suatu saat bisa saja terurai dan mereda, pergantian dan kombinasi terus bergulir dalam kehidupan. Tidak selamanya aku berada dalam situasi cemoohan, hinaan dan ketidakpedulian. Ada saat dimana roda berputar dan keadaan sepertinya lebih baik. Apabila aku tetap bersikukuh pada sifat kerasku maka aku akan menafikan keindahan yang ada dalam hidupku pada saat itu, tidak menghargai bahwa ada orang-orang yang begitu peduli sehingga aku tak perlu berjuang mati-matian seorang diri dalam mencapai setitik asa. Harusnya aku bisa lebih sadar bahwa telah banyak orang yang kulukai karena aku menampik kebaikan yang mereka tawarkan. Andai saja aku bisa lebih memaknai konsepsi filsafat Yunani kuno yang dirumuskan Heraclitus: segala-sesuatu itu ada dan tiada, karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan melenyap.
Labels:
Serba-Serbi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment